.: Sateuk Couple: My White lily :.

Jungsoo POV

“Oppa …..” teriakan yang sudah menjadi santapan sehari-hariku itu membangunkanku dari mimpi indahku pagi ini.
“Oppa Palli, aku sudah hampir telat” lanjutnya sambil menarik selimut kesayanganku menjauhi tubuhku.
“Ne, Dongsaeng-ah. .” ucapku dengan nada malas khas orang bangun tidur
“Cepat. . . .” teriaknya tepat diujung telingaku yang tak berdosa
‘bagaimana mungkin aku punya dongsaeng seperti dia’ gumamku dalam hati, sifatnya memang over menyebalkan bagi siapa saja yang baru mengenalnya, karena memang bibir
nya tidak bisa ditutup meski dengan lem sekalipun. Tak butuh waktu lama bagiku untuk membersihkan diri, mungkin karena kebiasaanku sejak appa dan omma meninggalkan aku dan dongsaengku tersayang itu 3 tahun yang lalu akibat kecelakaan saat ulang tahunku, waktu itu mereka beserta eunsoo pergi membelikanku kado tapi bukan kado terindah yang kudapat, akan tetapi kado terburuk yang tak akan pernah ku lupakan seumur hidupku, untung saja eunsoo masih bisa diselamatkan waktu itu, jika tidak aku tak tahu apa yang akan terjadi pada hidupku sekarang. Eunsoo koma selama 54 hari karena kecelakaan itu, bisa dibayangkan betapa gilanya aku saat itu, setelah pemakaman appa dan omma aku masih saja harus menahan sedih saat harus menunggu eunsoo di rumah sakit selama berhari-hari. Tapi, itu hanyalah masa lalu yang terpenting bagiku saat ini adalah menjaga eunsoo.
“Annyeong oppa, nanti jangan lupa jemput aku jam 5, .ara?” ucapnya sambil mengecup pipiku saat kami telah sampai dihalaman sekolahnya
“Ne, arraseo dongsaeng-ah, . .”balasku dengan senyum malaikatku
Ku lajukan mobilku dengan kecepatan standar menuju toko buku langgananku, ada beberapa buku yang harus ku cari untuk bahan skripsiku, aku memang masih kuliah dan sekarang sedang proses penyelesaian skripsi, semoga saja dapat segera ku temukan itu, agar lebih cepat aku menyelesaikan skripsi ini. Sungguh membosankan terus-terusan mengerjakan skripsi. Ku edarkan pandanganku ke rak-rak buku raksasa dihadapanku, ‘ayo cepat muncul buku ajaib, aku butuh kamu sekarang’ gumamku dalam hati. Mataku terpaku, itu dia buku yang kubutuhkan, ku percepat langkahku kearah buku itu tanganku mulai beraksi dan akhirnya dapatlah. Tanpa pikir panjang langsung saja ku bayar dan bergegas pulang dan segera mengerjakan skripsiku. Namun, saat bergegas memasuki mobilku, ada seseorang menabrakku, bukunya jatuh berserakan begitu juga bukuku, tak dapat kulihat dengan jelas bagaimana wajahnya, hanya rambut ikal panjang yang tergerai, karena dengan langkah terburu-buru dia pergi meninggalkanku setelah membereskan beberapa buku miliknya serta maaf dengan badan yang membungkuk. Semakin mendukungku untuk tak melihat wajahnya.
‘ya sudahlah’ gumamku pelan lalu melangkahkan kaki ke pintu mobilku. Ku lajukan mobilku dengan kecepatan standart, untuk meminimalisir bahaya di jalan raya. Akhirnya sampai juga aku di rumahku, rumah ini adalah peninggalan Appa yang paling berharga. Karena rumah ini adalah hadiah pernikahan appa untuk eomma, dan yang paling membuatku takjub adalah rumah ini didesign sendiri oleh appa, dan appa dan eomma sendirilah yang mendesign interiornya, mengecatnya sendiri saat mereka baru saja menjadi pengantin, dengan rasa cinta disetiap sudutnya. Furniturnya pun mereka sendiri yang memilih. Benar-benar romantis. Ruang tamu yang sengaja dibuat sederhana ini terpajang foto keluargaku masih sama dengan 3 tahun lalu, tidak ada yang berubah. Tak ada yang berani mengubahnya, karena menurutku merubahnya sama saja seperti memusnahkan cinta, bagaimana tidak appa dan omma benar-benar membuat suasana dirumahku penuh dengan cinta, setiap sudutnya memancarkan aura cinta dan kasih saying yang sangat kuat, dan itu benar-benar kurasakan.
“Jungsoo. .”sapa seseorang dibelakangku, suara yang sudah sangat familiar sejak aku masih bayi.
“Ne. .” balasku sambil menoleh, tae woo ahjussi adalah orang kepercayaan appa sewaktu masih hidup dulu, aku dan eunsoo termasuk beruntung sebab kami diwarisi harta yang berlimpah dan takkan habis mungkin sampai 7 turunan *lebay*.
“sudah pulang, .??”
“Ne Ahjussi, hari ini aku tidak kuliah, aku akan mengerjakan skripsi dirumah”
“Emm. . .berjuanglah, aku yakin sebentar lagi kau akan menjadi sarjana”ucapnya dengan senyum yang menenangkan, aku sudah menganggapnya sebagai keluargaku sendiri sejak appa meninggal.
“Ne. . .Gomawo ahjussi, aku masuk ke kamar dulu” ucapku dengan senyum tulus seraya pergi, buru-buru ku buka laptopku setelah ku bersihkan tubuhku yang sedikit terasa penat karena seharian berkeliling seoul. Ku buka buku yang kubeli tadi siang. Betapa kagetnya aku saat buku yang ku pegang ini tak sesuai dengan yang kubeli tadi.
“hah, .??buku siapa ini, .??”pekikku kaget
Kubuka halaman pertama, ada namanya ‘seya’
“Seya, .??siapa dia” ucapku bertanya-tanya, hal ini benar-benar menghambar kerjaku, apa yang harus ku lakukan sekarang, bagaimana mungkin aku tahu siapa dia, aku bahkan sangat asing dengan nama ini, siapa dia. Apakah dia seorang namja, tapi tak mungkin namanya ‘seya’ dia pasti yeoja. Mungkin yeoja yang menabrakku siang tadi, bagaimana mungkin bisa tertukar. Jelas-jelas disini tertulis untuk Seni Lukis, sedangkan aku Seni Musik. Bagaimana nasib skripsiku.
“Bukuku. . buku ajaibku, .bagaimana ini, .??hem. . “ucapku kebingungan sambil mondar-mandir dan membanting buku itu agak keras ke meja. Tak kusadari ada secarik kertas kecil tersembul keluar diantara halaman tengah. Kuambil kertas itu.
Nama : Lee Saera a.k.a Seya
Apabila ada yang tak sengaja
Menemukan buku ini cepat
Hubungi aku di no ne ya
0070-xxxxxx
GoMaWo^^
‘Nyawaku selamat’ itulah yang terlintas difikiranku saat ini.
‘sorry sorry sorry nega nega nega….”
Hpku berdering, eunsoo menelpon lalu kulihat jam dinding berwarna putih yang terpajang dengan manis, jam 5.
“yeoboseyo. . .”sapaku lembut
“Oppa…………”terdengar sangat jelas lengkingan suaranya di telingaku, dan telah berhasil membuat telingaku kongslet sebelah.
“Ne, aku sudah dijalan, tunggu aku 5 menit lagi. .”ucapku seraya menyambar kunci mobilku.

Saera POV

Dimana buku itu, aku benar-benar yakin tadi ku bawa, kenapa sekarang tidak ada, aduh dimana. Pikiranku benar-benar kacau, dalam 1 hari ini aku membuat kesalahan berkali-kali. Dikelas tadi, seharusnya aku melukis dengan cat minyak, tapi aku malah melukis dengan cat air, menabrak seorang namja saat diparkiran toko buku dan membuat sikuku luka-luka seperti ini, hampir menabrak ibu-ibu hamil saat mengemudi, pikiranku benar-benar kacau.
“huh. . .”aku menghembuskan nafasku berat merenungi nasibku hari ini yang sangat tidak beruntung, sampai aku ingat Hp ku yang mati karena low bat dan belum aku charge sejak tadi. Buru-buru aku charge Hp ku. Setidaknya aku tak ingin membuat oppaku cemas karena kesusahan menghubungiku, dan aku masih belum siap menghadapi ocehannya yang kadang membuat telingaku merah atau bahkan berasap karena mendengarkan kicauannya, meski ku tahu itu semua demi kebaikkanku juga. Dia adalah satu-satunya keluarga yang ku punya, appa sudah lama meninggal dan eommaku, aku juga tak tahu bagaimana keadaannya sekarang. Bahkan sejak aku lahir pun tak pernah mendengar suaranya ataupun melihat parasnya aku bahkan tak pernah bermimpi mendapatkan pelukannya. Saat aku penat ataupun kedinginan aku akan selalu membenamkan diriku ke selimut kesayanganku, pemberian appa saat aku masih sekolah dasar dulu. Tapi, masih tetap bagus seperti baru. Tak ada yang mau menjelaskan padaku kemana eomma dan apa yang terjadi padanya, aku pun tak berani bertanya banyak, karena sungmin oppa akan selalu memasang ekspresi aneh yang tak dapat ku tafsirkan saat aku coba bertanya tentangnya.
Ku benamkan tubuh ku dibalik selimut, rasanya nyaman sekali. ‘mungkin begini rasanya pelukkan eomma’ gumamku dalam hati. Ku pejamkan mataku menahan air mata hingga akhirnya aku tertidur.

Jungsoo POV

Buru-buru aku masuk ke kamar setelah selesai makan malam, akan segera ku selesaikan urusanku yang tertunda tadi sore. Ku sambar Hpku dan buru-buru ku pencet nomer telfon yang tertera disana. Kenapa lama sekali dan akhirnya ku dengar sebuah suara

‘annyeong saera disini, kalau kalian dengar suara ini, berarti Hpku sedang tidak aktif, bisa coba menghubungiku nanti, saat Hpku sudah menyala, Gomawo’

“Kenapa harus tidak aktif sih, .menyebalkan, .”gerutuku
“sabarlah park jungsoo, ini hanya cobaan, semuanya akan berjalan baik-baik saja setelah ini” ucapku menenangkan diri sendiri
Kulemparkan tubuhku kasar kekasur, mengapa sulit sekali menyusun skripsi, 2 hari aku harus mengAcc pembahasan pula, apa yang akan terjadi kalau sampai aku telat.
“huh. . .”ku hembuskan nafasku berat.

Saera POV

Entah sudah berapa lama aku tertidur, pasti sudah lama karena kurasakan tengkukku agak sakit, atau mungkin karena posisi tidurku yang tak beraturan. Hari juga sudah gelap. Langsung ku bersihkan tubuhku di kamar mandi, berharap kepenatan dan rasa ngantuk sisa-sisa tidur tadi cepat luntur bersama air, ku basahi seluruh tubuhku. Beberapa saat berselang dan aku sekarang sudah duduk didepan laptopku, mengotak-atik internet untuk sekedar mencari informasi. Sampai akhirnya aku ingat Hpku yang belum juga ku aktifkan dari tadi sore, pasti sungmin oppa sudah sangat khawatir padaku. Meskipun dia seorang pekerja keras, tai dia adalah oppa yang sangat perhatian pada dongsaengnya. Dan benar saja saat ku aktifkan Hpku, sdah tertera 20 pesan singkat yang hamper seluruhnya adalah sungmin oppa yang terlihat cemas dari kata-kata di setiap pesannya. Tapi, ada satu pesan yang aneh untukku, nomer baru. Siapa ini.

From: 0700-xxxxx
Annyeong haseyo Saera-Ssi
Bisakah kau menghubungiku
Saat Hpmu sudah aktif. .
Park Jungsoo

‘Park Jungsoo’ pekikku dalam hati, siapa dia. Rasanya tak ada temanku yang memiliki nama seperti ini. Rasa penasaranku melunjak sampai akhirnya suara telfon membuatku terbangun dari rasa penasaranku. “oppa. . .”pekikku lalu menekan tombol hijau.
“yeoboseyo. . .”ucapku hati-hati
“Saera, .dari mana saja kau, oppa sudah hamper terbang ke seoul untuk menmastikan kau baik-baik saja, mengapa Hpmu mati dari tadi, tak tahu kah kau oppa sangat khawatir, .”ucapnya dengan rentetan pertanyaan yang aku sendiri bingung harus menjawab yang mana dulu, sungguh oppa yang sangat perhatian.
“Ne, .Mianhae oppa, jeongmal Mianhae sudah membuat oppa khawatir, aku tadi hanya lupa mengaktifkan Hpku, tadi siang batreinya low oppa, lalu saat aku charge aku ketiduran dan baru bangun, Mianhae oppa . “ucapku penuh dengan rasa bersalah
“Ne, .Gwenchana. .kau sudah makan?”tanyanya lagi
“belum oppa, sebentar lagi karena sepertinya perutku juga sudah mulai kelaparan, .”ucapku sambil memegangi perutku yang sudah mulai bernyanyi.
“kalau gitu, makanlah dulu, nanti oppa telfon lagi, .annyeong dongsaeng-ah. . .jaga dirimu baik-baik disana. . .”
“Ne Oppa .. . annyeong. . “terdengar suara terputus dari seberang sana, tanpa ku sadari ada sebuah suara yang tak dapat diragukan lagi adalah suara perutku yang sudah mulai lapar. Kuputuskan untuk mengisi perutku di restoran ramen langgananku didekat apartemen. Aku memang suka ramen dari dulu, ramen itu seperti membawa pesan dari semua penjuru bumi, itu yang ku tahu tentang sejarah ramen dari kakekku dulu yang juga penggemar ramen. Akhirnya sampai juga aku di restoran ramen favoritku, tempat ini sederhana, tapi tak usah diragukan lagi betapa nikmatnya ramen yang mereka jual, membuatku selalu merindukan tempat ini.

Jungsoo POV

“Kenapa tak juga ada telpon. . “gumamku pelan
Kemana orang ini, kenapa tak juga menghubungiku. Tiba-tiba aku ingin makan ramen, kuputuskan untuk keluar dan mencari ramen, sekarang sudah hamper pukul 9 malam, semoga saja masih ada restoran ramen yang buka. Entah kenapa tiba-tiba aku ingin makan ramen, ramen memang makanan favouritku. Rasanya seperti sangat menyenangkan setelah memakan ramen, bukan karena aku kenyang. Tapi, ada sebuah rasa yang dapat melunturkan semua penatku setelah makan ramen. Mungkin terdengar aneh, tai itulah yang kurasakan. Ku lajukan mobil BMW putihku perlahan sambil mengawasi sekitar, berharap ada restoran ramen yang buka.
Sudah hamper 1 jam aku berkeliling, namun hasilnya NIHIL. Tapi, harapan muncul saat ku temukan sebuah restoran ramen sederhana di ujung jalan. Kupercepat laju mobilku. Dan tanpa pikir panjang aku langsung turun.

Saera POV

Kulangkahkan kakiku keluar restoran. Rasanya tenang sekali setelah memakan seporsi ramen. Hampir semua pegawai disini bahkan sudah mengenalku, mungkin karena terlalu seringnya aku makan ramen disini.
“Saera noona, Hpmu tertinggal” sapa seorang pelayan.
“Ah. . .Ne, kenapa aku bisa teledor seperti ini. Gamsahamida ahjussi”
“Ne. . .”balasnya lalu berlalu

Jungsoo POV

“Saera noona, Hpmu tertinggal” sapa seorang pelayan sambil menepuk bahunya
“Ah. . .Ne, kenapa aku bisa teledor seperti ini. Gamsahamida ahjussi”
“Ne. . .”

Siapa, .??apakah dia Lee Saera. Pikirku saat aku baru saja memasukki restoran dan berpapasan dengan seorang yeoja dan pelayan restoran. ‘Ah, tidak mungkin., Apakah yang bernama seperti itu hanya 1 di seoul’ pikirku. ‘tapi, . . ‘ kucoba melangkah keluar dan mencari yeoja itu, berharap dia adalah yeoja yang membawa buku ajaibku. ‘semoga saja itu dia, tuhan tolong aku’ gumamku penuh harap.
“kenapa cepat sekali jalannya”umpatku kesal saat tak kudapatkan bayangannya dijalan.
“Harus kemana aku sekarang”gumamku putus asa, memikirkan nasib skripsiku yang entahlah apa yang akan terjadi. Tak lama Hpku berdering, siapa ini kenapa nomernya tak kukenal.
“Yeoboseyo, .Nuguya, .??”sapaku dan terdengar suara seorang yeoja diseberang sana, suaranya sangat lembut, membuat aliran darahku terpacu sangat deras. Suara ini sangat menentramkan.

Saera POV

“Yeoboseyo, .Nuguya, .??”sapanya dari seberang.
“Ne, .Jungsoo ssi, .??Lee Saera Imnida, .??balasku
“Park Jungsoo Imnida, .aku namja yang tak sengaja menabrakmu tadi siang saat ditoko buku, .”
“oh Ne, .Mianhamida, .ada yang bisa aku bantu, .??”balasku
“bukumu dan bukuku tertukar, bisakah kau mengembalikan bukuku, .??”
“ah, .Jinja, .??”ucapku lalu mengacak-acak mejaku, dan ternyata benar ada buku asing yang hinggap di mejaku, buku untuk mahasiswa seni musik.
“oh Ne, .Mian jungsoo ssi, .kapan aku bisa mengembalikan bukumu, .??”jawabku setelah menemukan buku itu
“bagaimana kalau besok di toko buku tadi pagi, .ara, .??”balasnya ramah, suaranya terdengar sangat ramah dan lembut.
“Oh Ne, .Arasseo , .mianhae jungsoo ssi, .”
“Ne gwenchanayo, .besok jam 9 pagi ya. . .gamsahamida lee saera ya, .”balasnya lalu, menutup sambungan telponnya.
Kuputuskan untuk melanjutkan pekerjaanku tiap malam sebelum tidur, akhir-akhir ini aku memang sedang sibuk berlatih untuk persiapan pameran lukis di kampusku 1 minggu lagi, dan 3 hari lagi aku harus menyerahkan lukisanku yang terbaik untuk dipamerkan. Aku sebenarnya sangat ahli membuat sketsa, tapi aku akan mencoba mengembangkan bakatku agar aku bisa melukis lebih dari sekedar sketsa. Dan aku yakin aku pasti bisa.

Jungsoo POV

Seperti pagi-pagi sebelumnya agendaku pagi ini masih mengantarkan eunsoo ke sekolahnya, meski sebenarnya dia bisa naik bis, tapi banyak sekali alasannya apabila aku menyuruhnya naik bis, takut telatlah, inilah, itulah. Dasar dongsaeng manja, tapi aku akan tetap sayang padanya, dia satu-satunya keluarga yang ku punya. Tak lupa ku bawa buku milik saera karena kami akan ketemu untuk menukarkan buku kami yang tertukar. Semoga dia tidak lupa agar aku bisa segera mengerjakan skripsiku yang hanya tinggal besok batas penyetujuan bab I.
“jangan lupa dan jangan telat lagi menjemputku ya oppa, .”ucapnya mengingatkan lalu turun setelah mengecup pipiku seperti biasa
“Ne dongsaeng-ah, . .belajar yang rajin ya”ucapku diamini dengan anggukan kepalanya, dan mulailah ku lajukan mobilku ke kampus, sepertinya aku harus melihat kesana. Barang kali ada informasi baru mengenai skripsi atau semacamnya.

Saera POV

Hari ini aku bangun kesiangan, aduh bagaimana ini bukankah aku ada janji dengannya, untuk mengembalikan bukunya. Kepalaku pusing sekali, apa yang terjadi pada kepalaku ini, rasanya mau meledak. Aduh, ya tuhan apa yang salah dengan kepalaku, Berat sekali rasanya. Tapi, aku harus tetap bangun, harus ku kembalikan bukunya, karena buku ini sepertinya sangat penting untuknya. Aku melangkah berat menuju kamar mandi, mungkin dengan air rasa sakit ini akan hilang. Sengaja aku berlama-lama dikamar mandi,

Karena rasanya tenang sekali disana, air memang selalu memberikan ketenangan. Ku berdandan seadanya, baju panjang selutut tanpa lengan biru muda dan cardigan putih, rambutku pun ku biarkan tergerai serta dipermanis dengan bando.
‘Semoga hari ini menyenangkan Lee Saera, tersenyumlah’ gumamku sendiri didepan kaca dengan senyum 5 cm ku. Ku lajukan mobilku dengan kecepatan rata-rata, tak ingin mengulang kesalahanku seperti kemarin, aku harus lebih hati-hati sekarang.
Baru jam 8.30, mungkin dia belum dating. Tapi, bukankah kita belum pernah bertemu, bagaimana bisa aku mengenalinya, kenapa aku begitu bodoh tidak bertanya cirri-cirinya seperti apa.
‘Nanti saja lah pasti dia akan menghubungiku saat dia sudah datang’ gumamku dalam hati.
Kuputuskan untuk masuk ke dalam toko, mungkin ada buku seru yang dapat menghidupkan inspirasi melukisku.

Jungsoo POV

Aku bahkan sudah sampai sejak pukul 8 di toko buku ini, tapi kenapa tak kurasakan tanda-tanda kedatangannya, aku sudah berdiam diri didalam mobilku, aku memang sengaja menunggunya ditempat parker, karena aku yakin dia pasti mengendarai mobil. 10 menit lagi jam 9, dan masih belum ada satupun mobil yang menunjukkan tanda-tanda miliknya,
‘sabarlah park Junsoo, aku yakin dia bukan gadis yang suka ingkar janji,’gumamku menenangkan diriku lalu menyalakan radio, kebetulan malam ini ada siaran ‘Sukira’ siaran favouritku, penyiarnya yang bernama Lee Hyuk Jae itu sangat pandai mencairkan suasana dengan sifat narsisnya yang selalu mengatakan dia tampan dan bla. . .bla. . bla. . .

Saera POV

Sekarang bahkan sudah jam 9 lewat, dan dia belum juga menghubungiku. Apakah aku yang harus meghubunginya. Segera ku jauhkan Hpku saat seseorang memanggilku,
“Saera ya. . .”
Kuedarkan pandanganku, mencari-cari siapa yang memanggilku. Sampai kudapatkan sosoknya,
“donghae ya. . .”gumamku pelan, kenapa harus bertemu dia disini, sungguh saat yang sangat tidak tepat, apa yang dia lakukan disini, dia tak pernah suka membaca. Pikiranku langsung melesat pergi saat dia tiba-tiba sudah didepanku dan menyentuh pipiku pelan.
“kau masih sama seperti dulu rupanya, masih tetap cantik dengan paras lembutmu”
“a. . .a. .apa yang kau lakukan disini, .??”tanyaku sedikit gugup dan suara dingin
“mencari sosokmu di seluruh kota seoul sungguh menyulitkanku, tahukah kau betapa sengsaranya aku saat engkau pergi”ucapnya dengan tatapan teduh dan senyuman nakalnya*coba bayangin aja matanya donghae pas di MV super girl*, masih sama seperti 2 tahun lalu sejak aku memutuskan meninggalkan Mokpo dan pindah kesini, dan karena alas an itu juga sungmin oppa akhirnya berkelana keluar negeri untuk mengejar mimpinya. Aku benar-benar tak ingin melihatnya disini, dia sungguh menggangguku. Sudah 2 tahun aku berusaha melepaskan diri darinya. Sudah cukup semua rasa sakit yang

dia berikan untukku, sudah sangat cukup. Lalu, kenapa dia muncul lagi saat aku sudah hamper berhasil melupakannya.
“apa yang kau lakukan disini donghae ya, .??kenapa kau selalu mengganggu hidupku. .”belum selesai aku bicara dia sudah menarik tanganku melangkah keluar dari toko dan bergegas ke tempat parker.
“lepaskan aku donghae ya. . .aku bukan lagi saera yang kau kenal dulu, aku bukan saera yang selalu bisa kau sakiti, .”dia selalu saja memotong pembicaraanku, kali ini bukan lagi tangannya yang menarik tanganku dan membuatku merintih kesakitan, tapi bibirnya telah menyentuh bibirku dan melemaskan seluruh persendianku, ku coba berontak sekuat mungkin agar semua tak berlanjut, dan membuatku luluh lagi, aku sudah cukup terluka oleh semua masa lalu yang menyakitkan itu.
‘PLAK’kutampar pipinya saat aku telah berhasil melepaskan diri dari bibirnya yang tak sopan itu, seenaknya saja menciumku.
“apa yang terjadi padamu jagi, .aku mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu. Apakah aku sudah tak berarti lagi untukmu, .??hanya sebesar itukah cintamu padaku, .??”
“hanya sebesar itu kau bilang, .??aku bahkan telah mengorbankan seluruh perasaanku untukmu, aku sudah merelakan hatiku terluka berkali-kali, saat melihatmu berselingkuh didepan mataku, apakah itu pantas disebut HANYA, .??”balasku berapi-api dengan air mata yang deras mengalir. Dia hanya diam.

Jungsoo POV

Sudah jam 10, bahkan tak ada satupun tanda-tanda kehadirannya. Apakah dia lupa punya janji denganku. Kenapa dia tak menelponku, seharusnya dia memberi tahuku, kita bahkan tak pernah melihat wajah masing-masing. Bagaimana bisa aku mengenali wajahnya, kalau aku hanya dapat melihat punggungnya saat itu. Aku akan tetap bertahan untuk menunggunya, sambil terus saja mendengarkan radio yang kini memutar lagu ‘What If-Super Junior’. Sampai akhirnya ku dengar suara keributan. Aku tak dapat melihat dengan jelas wajah yeojanya tapi aku dapat dengan jelas melihat wajah namja itu. Perawakan tinggi dan wajah yang gagah, serta wajah yang tampan. Mereka sepertinya sepasang kekasih dan mereka sedang bertengkar sekarang. Tapi, punggung itu. Kenapa aku sepertinya pernah melihat bayangan punggung itu, rasanya meneduhkan. Apakah itu Saera. Kucoba meraih Hpku dan mencari namanya. Kali ini aku harus menghubunginya. Aku harus memastikan. Dan benar saja, yeoja yang ada didepanku dan sedang bertengkar itu adalah Saera.
“yeoboseyo. . .jungsoo ya, kau dimana, .??”terdengar suaranya lembut dan terdengar seperti orang yang menangis
“. . . . . .”aku hanya diam, tak bisa berkata apapun. Masih mengagumi tiap jengkal parasnya yang membuatku hampir tak sadarkan diri. Sungguh makhluk tuhan yang indah, sangat indah.
“Jungsoo ya. . .kau masih disana kan, .??”ucapnya lagi dengan nada yang menyiratkan kekahwatiran
“ah, .Ne. .Mianhae. . .aku dibelakangmu saera ya, kau bisa menoleh sedikit kekanan..”ucapku sambil keluar dari mobilku, dan melambaikan tanganku saat dia menyadari kehadiranku, sebuah senyum terlukis di bibirnya, senyum yang sangat menawan dan mungkin tidak dimiliki yeoja lain selain lee saera. Dia berlari kearahku dan mengabaikan namja yang tadi bertengkar dengannya.
‘Apakah itu namjachingunya, .??’ ucapku bertanya-tanya dalam hati.

Saera POV

“Jungsoo ya. . kau baik-baik saja kan, .??”ucapku saat sudah berada tepat didepannya, karena dari tadi dia diam saja seperti patung dan tak bergerak mengalihkan matanya dariku, membuatku malu saja.
“ah,Ne. .Mianhae saera ya, sudah merepotkanmu, bisa kau berikan bukuku sekarang, .??”
“Gwenchana Jungsoo ya. .aku juga minta maaf membuatmu kesusahan, pasti buku ini sangat penting untukmu. .”ucapku lalu mengulurkan bukunya
“Ne, .buku ini sangat penting untukku, buku ini sudah ku cari berminggu-minggu, dan baru kutemukan saat aku sudah hampir mengumpulkan skripsiku, .dan ini bukumu saera ya, .”ucapnya panjang lebar dan mengulurkan bukuku, buku ini sangat berharga untukku.
“Ne, .Gamsahamida. .”balasku dan mengambil buku itu dari tangannya
“Ne, .sudah dulu ya saera ya, aku harus segera pulang, aku harus mengerjakan skripsiku, dan sepertinya kau juga masih ada urusan, mungkin kapan-kapan kita bisa mengobrol. .”ucapnya sambil melirik donghae yang masih berdiri tak jauh dari kami
“hmm. . .gamsahamida Jungsoo ya. . “ucapku dan berbalik akan pergi
“oh iya saera ya. . .kalau kita bertemu lagi besok, tolong jangan panggil aku seperti itu, panggil saja aku oppa, anggaplah aku seperti oppamu sendiri, karena kau telah berbaik hati mau menjaga buku ajaibku ini. . “ucapnya dengan senyum yang aku sendiri tak tahu harus menyebut itu senyum apa, tapi senyum itu sungguh menenangkan hatiku
“em. . oppa, .??”
“kumohon jangan menolak, .itu hadiah untukmu saera ya. . “
“em. . .Ne. . Oppa. . .Annyeong, .hati-hati dijalan”ucapku lalu melambaikan tangan ke arahnya
“annyeong. . .”balasnya lalu masuk kedalam mobilnya dan pergi berlalu

Jungsoo POV

Apa yang terjadi padaku, kenapa aku menyuruhnya memanggilku oppa, bukankah aku baru sekali bertemu dengannya. Apa yang salah denganku, aku bahkan tak pernah seperti ini sebelumnya, aku tak pernah mau dipanggil oppa oleh siapapun kecuali eunsoo pastinya, tapi kenapa aku menginginkannya memanggilku seperti itu, apa yang terjadi dengan otakku ini, apakah sudah kongslet.
‘Jungsoo kenapa kau mempermalukan dirimu sendiri seperti itu, dasar babo. Pasti dia mengiraku namja aneh karena baru kenal sudah menyuruhnya memanggilku oppa . .’gumamku pelan
‘ya sudahlah, .toh sudah terjadi bukan. .’tepisku
Masih tengah hari, kuputuskan segera pulang dan menyelesaikan skripsiku yang harus ku serahkan besok. Ku lajukan mobilku cepat agar segera sampai rumah. Aku tak ingin menyia-yiakan waktu yang masih tersisa, ku kirim pesan singkat pada eunsoo karena aku mungkin tak akan sempat menjemputnya nanti, semoga saja dia bisa mengerti.

Saera POV

“apakah masih ada yang ingin kau bicarakan sekarang, .aku harus segera pulang menyelesaikan tugasku, .”ucapku ketus pada namja menyebalkan dihadapanku, kami sekarang sudah ada di salah satu restoran sederhana didekat toko buku.
“apakah kau tak merindukkanku lee saera, .??sebenci itukah engkau padaku, .??apakah tak ada lagi sedikit ruang untukku dihatimu, .??aku menyayangimu lee saera, .”ucapnya panjang lebar dan langsung ku potong
“sayangnya aku tak pernah sedikit[un merindukanmu, atau bahkan mengingatmu di setiap hari-hariku, jika hanya bualan-bualan dan rayuan-rayuan tak berguna itu yang ingin kau katakana, sebaiknya aku pulang dulu, karena aku tak punya waktu untuk mendengarkan semua hal tak berguna itu”ucapku lalu berlalu disampinya, tapi belum jauh aku melangkah, dia sudah berhasil menarik tanganku dan menjatuhkan tubuhku dalam pelukannya
“apa yang kau lakukan donghae ya, .??ini tempat umum, dan aku tak suka diperlakukan seperti ini. .”ucapku seraya memberontak
“tak bisakah kau berikan aku sedikit waktu untuk merasakan teduhnya matamu saat menatapku dulu, tak bisakah kau berikan aku sedikit waktu hanya untuk merasakan hangatnya tubuhmu, aku benar-benar merindukanmu lee saera, sangat merindukanmu. Tak tahukah engkau begitu banyak hari kulewati dengan kesunyian saat kau tak ada. Aku memang tak tahu diri karena menyia-nyiakan hal terindah yang diberikan tuhan padaku, aku benar bodoh karena membiarkanmu pergi secara paksa dari hidupku. Aku memang bodoh lee saera, ku mohon maafkan kebodohanku, .aku mohon. .”kudengar suaranya bergetar
“sudah selesaikah bualanmu donghae ya. .sekarang biarkan aku pergi. .”ucapku dan membutnya melepaskan pelukannya
“maaf telah membuatmu membuang banyak waktu,hanya untuk mendengarkan semua kebodohanku. .semoga hidupmu bahagia lee saera. .”ucapnya masih menatap dalam mataku.
“Ne. .gamsahamida. .”ucapku lalu pergi meninggalkannya yang masih terpaku ditempat.
Dia benar-benar namja menyebalkan, sudah 2 tahun tapi masih saja sama, hanya mau menang sendiri, dikira aku boneka yang bisa dipermainkan, sudah cukup 2 tahun berpacaran dengannya dengan semua tekanan yang dia berikan, bayangan masa lalu itu membuatku sesak nafas saja.
‘cukup saera, jangan memikirkan dia lagi’gumamku menenangkan, saat aku sudah sampai di apartemenku, dan kubenamkan tubuhku di selimut favouritku, tempatku menenangkan diri seperti biasa, selain di kamar mandi tentu saja. Kepalaku sakit lagi, padahal tadi sudah tak sakit. Tak ku hiraukan rasa sakit ini, dan tetap memejamkan mataku, berharap bisa segera tidur.

Jungsoo POV

Berulang kali ku coba menfokuskan pikiranku pada skripsi yang sedang aku kerjakan sekarang. Tapi, hanya bayang-bayang saera yang selalu muncul, apa yang terjadi dengan system kerja otakku ini, apa yang salah. Tuhan, jangan biarkan aku gila dulu. Skripsiku bahkan belum selesai, belum lagi tugas akhirku untuk membuat sebuah lagu yang akan dibawakan di malam perpisahan di kampus.
‘jungsoo fokuslah, fighting~!?’gumamku pelan dengan nada semangat yang dibuat-buat
Ku mulai memijat-mijat keyboard laptopku, laptop putih kesayanganku. Warna putih memang sebuah keindahan, rasanya akan sangat tenang dan damai apabila melihat warna putih. Seperti musik yang juga merupakan keindahan yang tak ternilai, bukankah musik itu seperti sebuah jiwa yang dapat membuat hidupmu lebih hidup, coba saja rasakan. Saat mendengarkan musik dengan alunan kesedihan kita akan terbawa suasana untuk merasakan sebuah perasaan yang sangat dalam dan menyayat, lalu saat musik itu mengalun dengan nada ceria maka suasana hati akan senang juga. Bukankah itu semua hidup, hidup tak selalu indah bukan, kadang kala akan ada kesedihan sebagai warna lain yang terlukis. Amat sangat menyenangkan melukis hidup dengan musik, karena musik adalah sarana untuk membuat hidup berwarna.
‘Apa saja yang kupikirkan, fokuslah pada skripsi ini jungsoo’ gumamku pelan membuyarkan lamunanku
1 jam. . .2 jam, . .3 jam, . .5 jam. . .
Akhirnya selesai juga, rasanya lega sekali. Seperti ada batu di pundak yang telah rontok. Lega sekali. Tak kusadari perutku sudah kosong, rasanya aku harus membuatnya tak lagi bermusik disana karena musik yang satu ini membuatku kesakitan dan geli. Kuputuskan untuk makan masakan dirumah, karena rasanya sudah penat sekali otakku, aku ingin buru-buru tidur.

Sungmin Pov

‘apa saja yang dia lakukan sampai tak mengangkat teleponku dari tadi, ya tuhan ada apalagi ini, kenapa dia suka sekali membuat jantungku copot’gumamku sambil mondar-mandir dan Hp yang masih ku tempelkan di telinga
‘oh tuhan, ini bahkan sudah yang ke 20 kalinya sejak satu setengah jam yang lalu. Apa saja yang kau lakukan saera, apakah sangat susah hanya mengangkat telepon oppa yang sangat menghawatirkanku ini’ ucapku geram sambil membanting tubuhku keras di sofa

Saera Pov

Ku kerjap-kerjapkan mataku, mencoba menyesuaikan keadaan sekitar yang gelap. Apartemenku sudah gelap, berarti ini sudah sangat malam, karena hanya dapat kulihat lampu-lampu dari gedung-gedung dan hiruk pikuk kota yang kulihat dari kaca apartemenku. Aku sangat suka suasana ini, sangat indah melihat kerlip lampu dibawah sana, seperti bintang yang sangat banyak. Ku hidupkan lampu di ruang tv dan dapur. Dan mencoba mecari makanan di kulkas, barang kali ada sesuatu yang bisa mengganjal perutku. Sampai tiba-tiba Hpku berdering, pasti sungmin oppa. Buru-buru ku angkat telepon itu, dengan antisipasi kuping memerah karena kepanasan.

Jungsoo Pov

Akhirnya pagi juga, kali ini aku bangun lebih pagi dari eunsoo. Aku akan ke kampus hari ini, mengumpulkan skripsiku. Semoga saja akan langsung disetujui. Kusiapkan diriku semaksimal mungkin, agar para dosen itu juga akan terpesona melihat ketampananku yang super ini. Setelah eunsoo turun untuk sarapan bersamaku, dan menghabiskan rotinya. Kami berangkat. Hanya butuh waktu 1 jam 20 menit untuk sampai kekampusku setelah mengantarkan eunsoo ke sekolahnya tentunya.
‘semoga hari ini semua lancar’ doaku dalam hati, menyemangati diriku sendiri tentunya
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya sekarang giliranku. Untunglah semuanya lancer. Kuputuskan untuk segera keluar dari kampus, dan langkahku terhenti saat melihat bayangan punggung seseorang yang sangat menenangkanku, seseorang yang membuatku memikirkannya seharian kemarin. Apa yang dia lakukan di tempat ini, bukankah ini sanggar lukis anak-anak senior yang lukisannya sudah terkenal keseantero kampus. Rasa penasaranku tiba-tiba saja mencuat seperti roket.

~ 1 minggu kemudian ~

Saera Pov

Hari ini pameran lukis pertamaku. Semoga semuanya berjalan lancar hari ini. 2 minggu adalah pesta kelulusan, dan entah kenapa aku merasa sangat sedih mengingatnya. Sejak pertemuan itu, aku sering bertemu dengan jungsoo oppa, dia orang yang sangat menyenangkan bagiku, dia selalu dapat membuatku tersenyum. Akhir-akhir ini kepalaku semakin berat, kadang hidungku mengeluarkan darah kental. Mungkin ini karena aku terlalu memforsir tenagaku akhir-akhir ini, aku terlalu sering tidur malam untuk melukis. Hari ini, rasanya kepalaku sakit berkali-kali lipat dari biasanya. Tapi, tetap ku paksakan untuk pergi ke acara pameran lukisan yang akan menjadi sejarah terbesar dalam hidupku. Aku tak akan mau melewatkan hal ini. Ku langkahkan kakiku berat keluar apartemenku.
‘berikan aku kekuatan tuhan, aku tak mau melewatkan hari ini’ lirihku dalam hati
25 menit kemudian aku telah sampai di tempat, tempat pameran kali ini memang tak jauh dari apartemenku. Dan tentu saja dari restoran ramen langgananku.
‘datangkah dia hari ini’ gumamku lirih dengan penuh harapan, melihat senyumannya adalah sebuah suntukan energi untukku.
Kulihat bayangannya dari jauh, saat tanganku terangkat ingin melambai kearahnya. Betapa terkejutnya aku saat ku lihat seorang yeoja manis dan mungkin bisa dikatakan seumuran dengannya, berjalan disampingnya dengan tangan yang saling berpegangan, seolah tak ingin dipisahkan. Rasanya ada yang menghujam hatiku, apa yang kurasakan ini. Kenapa aku harus cemburu padanya, aku bukan siapa-siapanya. Ku palingkan pandanganku, sampai tiba-tiba semuanya gelap dan kurasakan tubuhku tergolek lemas.

Jungsoo Pov

Kuedarkan pandanganku keseluruh ruangan, berharap segera kutemukan dia di tempat ini. Aku sangat merindukan tatapan matanya yang teduh dan senyumnya yang membuatku hidup. Sampai aku bertemu Yoona, dia sahabat baikku. Dia memang selalu manja padaku, kadang banyak orang yang menganggap kami berpacaran, karena sikapnya yang kelewat mesra padaku. Kadang aku risih dengan semua perlakuannya, tapi dia selalu bilang ini adalah ungkapan persahabatannya untukku. Sampai ku dapati gerombolan orang, perasaanku langsung tak enak, seperti ada nafas yang hilang dan terpisah dari tubuhku. Ada apa disana. Kudekati gerombolan itu, berusaha menemukan jawaban. Sampai akhirnya kudapati sosoknya, sosok yang kucari-cari dari tadi, sosok yang menjadi penyemangatku. Tergolek lemas dengan darah kental yang tak henti-henti keluar dari hidungnya. Refleks tanganku mengangkat tubuhnya dan segera membawanya kerumah sakit terdekat, aku tak akan membiarkan orang yang kusayangi hilang lagi, takkan ku biarkan semangat hidupku menghilang lagi. Dia penyemangatku, malaikatku, nafasku. Aku akan menyelamatkannya meski aku harus mengorbankan nyawaku. Sudah 1 jam aku menunggunya, wajahnya yang indah itu pucat tapi tetap tak membuatnya kehilangan keindahannya. Aku masih terus memegangi tangannya dan menatap lekat wajahnya. Sampai kudengar suara Hp nya yang berdering. Ternyata oppanya yang menelpon.

Sungmin Pov

“yeoboseyo. . .”
“yeoboseyo, . “terdengar suara namja dari seberang sana
“Nuguya, .??”tanyaku khawatir
“park jungsoo imnida. . .maaf aku teman saera, . .”
“Lee Sungmin imnida, .saera dimana, .??”
“dia ada dirumah sakit sekarang, tadi tiba-tiba dia pingsan saat di pameran lukisan”
“Jinjayo, .??rumah sakit mana, .??apakah dia baik-baik saja, .??”tanyaku dengan kekhawatiran yang tak terkira, pikiranku benar-benar kacau sekarang
“sebaiknya kau cepat kesini, dokter ingin segera bertemu keluarga saera”
“baiklah, .aku akan segera ke sana sekarang, .tolong jaga saera sampai aku dating, .”ucapku lalu segera menutup sambungan telepon itu. Segera ku pesan tiket pesawat untuk penerbangan malam ini. Segera kubersiap-siap.

Jungsoo Pov

“kau dengar kan, banyak sekali yang menghawatirkanmu, jadi cepatlah sadar saera. Aku tak sanggup melihatmu seperti ini, rasanya aku juga sakit sepertimu saera, ireona saera. . .ireona. . .”bisikku dengan air mata yang menggenangi pelupuk mataku, aku tak mau dia tahu kesedihanku, aku harus tegar agar dia bersemangat untuk segera membuka matanya.
“aku janji akan selalu membawakan lily setiap pagi kalau engkau mau membuka mataku saera. . .”ucapku sambil menciumi tangannya.
Sesak sekali rasanya dadaku, melihatnya seperti ini. Nafas ini rasanya tersengah-engah tak teratur.
Beberapa jam kemudian sungmin datang, aku tahu namanya karena saera sering sekali bercerita tentangnya, dia nampaknya sangat bangga dengan oppanya ini. Selain itu juga karena perkenalan kami ditelepon waktu itu. Dia lalu bergegas menuju ruang dokter setelah melihat keadaan saera sebentar. Kami hanya sempat mengobrol sebentar. Beberapa saat kemudian dia kembali dengan wajah sangat menyedihkan. Tampak sekali banyak kesedihan disana. Ku beranikan diri mendekatinya, dia memang lebih muda beberapa tahun dariku. Beberapa saat kebisuan menyeruak, aku memeng orang yang tidak mudah mendekati orang, tapi kali ini aku akan mencoba. Karena dia sepertinya membutuhkan sandaran. Tak lama dia menangis,

“aku tak bisa menjaganya, aku telah lalai menunaikan janjiku, aku memang tak berguna”ucapnya lirih
“ kau bisa menceritakan padamu jika kau mau”ucapku menenangkannya
“dia terkena kanker otak stadium akhir, hidupnya sangat terbatas. Karena sewaktu-waktu dia akan pergi. Kemoterapipun sudah tak bisa memungkinkan, karena kankernya sudah hampir menguasai seluruh jaringan otaknya. Aku telah lalai membuatnya bahagia didunia ini. Apa yang harus aku lakukan sekarang”ucapnya putus asa dan terduduk dilantai dengan air mata yang tak henti-hentinya turun

Saera Pov

Ada dimana aku sekarang, terdengar lirih suara detak langkah kaki. Samara-samar kudengar suara tangis dari seseorang yang kukenal,
‘sungmin oppa’lirihku hampir tak dapat terdengar oleh siapapun, lalu terdengar suaranya bergetar.
“aku tak bisa menjaganya, aku telah lalai menunaikan janjiku, aku memang tak berguna”
“ kau bisa menceritakan padamu jika kau mau”ucap seserorang yang suaranya sudah taka sing bagiku, suara yang selalu mebuatku tenang
“dia terkena kanker otak stadium akhir, hidupnya sangat terbatas. Karena sewaktu-waktu dia akan pergi. Kemoterapipun sudah tak bisa memungkinkan, karena kankernya sudah hampir menguasai seluruh jaringan otaknya. Aku telah lalai membuatnya bahagia didunia ini. Apa yang harus aku lakukan sekarang”
‘tuhan, penyakit apa itu, apakah umurku pendek sekali, apa yang terjadi padaku tuhan. Kenapa semua ini terjadi padaku’batinku
“apakah tak ada jalan lain selain kemo, .??”
“sayangnya tidak, karena kankernya sudah sangat ganas”
‘ya tuhan, aku bahkan belum sempat membuat mereka bahagia, aku bahakan belum sempat merasakan cinta yang sangat kudamba dari jungsoo oppa’
“kumohon rahasiakan ini dari saera”ucap sungmin oppa masih dengan suara bergetar
“aku akan menjaganya, takkan kubiarkan waktunya terlewat dengan kesedihan”
Kuberanikan diri untuk bersuara seolah tak mendengar apapun.
“oppa, .apakah itu kau, .??” ucapku lebih keras dan mencoba bangun dari tidurku
“Saera. . .kau sudah sadar, jangan banyak bergerak. Kau butuh banyak istirahat”balas sungmin oppa setengah berlari kearahku dan membantuku tidur kembali
“oppa, kenapa menangis, maaf aku selalu merepotkan oppa, .”
“aku tak menangis dongsaengku yang paling ku sayang, .mataku memang agak lembab akhir-akhir ini, mungkin karena terlalu banyak tidur”ucapnya berbohong dan mencoba tersenyum kearahku
‘maafkan aku oppa, .aku selalu saja membuatmu sedih. Lindungilah dia tuhan, buatlah dia selalu tersenyum, dengan orang terbaik yang kau pilihkan. Andai kau tahu oppa, aku sangat menyayangiku’
Kualihkan pandanganku pada seseorang dibelakang sungmin oppa. Nyawaku dan nafas hidupku tengah berdiri dengan senyum manis yang selalu membuatku ingin melihatnya setiap saat. Aku akan sangat merindukan senyum itu sejak saat ini, karena aku tak ingin melukainya lebih dalam, aku tak ingin membuatnya menghawatirkanku, karena itu sama seperti menyiksa hidupku.
“apa yang kau lakukan disini jungsoo oppa, .”ucapku tanpa menatapnya
“aku sepertinya harus keluar sebentar”potong sungmin oppa
“jangan pergi oppa, tolong bawa orang ini menjauh dariku. Aku tak ingin melihatnya disini, aku terganggu dengan kehadirannya, tolong jauhkan dia dariku oppa. . .jebal”ucapku memohon pada sungmin oppa
“Saera ya. . .apa yang terjadi padamu, .??”jungsoo oppa padaku
“aku, .??aku tak apa-apa, aku hanya tak ingin melihatmu. Kau menggangguku jungsoo ya. . .masih belum cukupkah alasan itu, .??sebenarnya apa yang kau inginkan dariku, .??”
“aku menginginkanmu saera ya. . .aku menginginkan hatimu, .aku menginginkan nafasmu, aku menginginkan semua yang ada dididrimu, .aku menginginkanmu. .”ucapnya mendekatiku dan meraih tanganku, sedangkan sungmin oppa melangkah menjauhi kami, dia seolah ingin memberikan ruang padaku, kucoba menarik-narik tanganku dari tangannya.
“Lepaskan aku, karena aku tak pernaah mencintaimu, aku tak pernah menganggapmu ada dalam hidupku, dan aku tak pernah percaya bahwa cinta itu ada. Kau tahu, bertahun-tahun aku bertahan demi cinta tapi ternyata semua itu hanya bualan, hanya khayalan. Aku tak akan pernah lagi kepada cinta. Jadi tinggalkan aku jungsoo ya, aku tak akan bisa memberikanmu cinta. . .”ucapku sambil menarik tanganku dari tangannya.
“aku tak keberatan kau tak pernah mencintaiku, atau bahkan kau selalu melukaiku. Aku tak peduli. Tapi, jangan pernah usir aku dari hidupmu. Itu terlalu menyakitkan untukku saera ya, aku mencintaimu saera ya. . .sangat mencintaimu, . .”
“tapi sayangnya aku tak pernah menyayangimu ataupun mencintaimu, walau hanya sedikit dari hatiku, dan sebaiknya engkau segera pergi dari sini jungsoo ya, .aku sudah tak ingin lagi melihatmu, .pergilah bersama cintamu yang hanya bualan itu. . .”ucapku lalu berpaling membelakanginya dengan air mata yang tak sanggup ku tahan lagi
“saera ya. . .setidaknya berikan aku kesempatan untuk menyakinkanmu bahwa ali bisa membuatmu mencintaiku. . .”
“sayang sekali kesempatan itu sudah tidak berlaku lagi dalam hidupku. . . .sudah tak ada dan tak perlu lagi ada kesempata yang diberikan. . .pergilah jungsoo ya. . .”
“saera ya. . .jeball. . .”
“aku bilang pergilah kau dari sini, . .pergilah jungsoo ya. . .”
Ku dengar suara kaki kecewa dari setiap langkahnya, maafkan aku oppa. Maafkan aku telah membuatmu terluka. Bukankah lebih baik kau terluka sekarang dari pada nanti. Andai kau tahu bahwa aku juga sama terlukanya sepertimu.

_2 minggu Kemudian_

Hari ini pesta pelepasan, karya terbaik dari Fakultas seni akan ditampilkan sesuai dengan seleksi yang dilakukan beberapa minggu sebelum acara ini lewat berbagai macam event. 1 minggu yang lalu aku pulang dari rumah sakit, sebenarnya sungmin oppa mengajakku tinggal bersamanya tapi aku menolaknya, karena ada sesuatu yang akan aku lakukan disini, setidaknya sebelum aku benar-benar menghilang dari hidupku. Aku melangkah keluar apartemen dengan gaun berwarna peace dengan cardigan sedikit bulu berwarna senada, kugerai rambutku dengan pita sederhana pemberian jungsoo oppa, sebelum aku sakit dulu. Rambutku memang masih sama tapi sedikit menipis karena penyakitku ini. Penampilanku tak mencolok dan sangat sederhana, hanya make up tipis untuk menyamarkan wajahku yang pucat. Aku menggunakan taksi untuk sampai ke kampus, mobilku di jual sungmin oppa, karena dia sudah benar-benar tak ingin aku memakainya, dia terlalu mengkhawatirkanku. Akhirnya aku sampai dikampus. Kulihat lagi senyumnya saat aku tak sengaja berpapasan dengannya di pintu masuk, dia nampaknya sudah menemukan cintanya, yeoja itu. yeoja yang sama seperti waktu itu, mereka berjalan sangat mesra, yeoja itu bergelayut mesra di pundak jungsoo oppa. Rasanya nafasku tiba-tiba melayang. Sejak kejadian di rumah sakit waktu itu dia bahkan tak pernah berusaha menghubungiku, hanya saja selalu saja ada kiriman bunga lily dipagi hari sebelum aku bangun, sangat banyak sampai aku pun tak tahu berapa jumlahnya, akupun tak tahu siapa yang memberikannya untukku. Bunga itu bahkan masih saja terkirim walaupun aku sudah pulang. Aku memang suka sekali bunga lily. Warnanya yang putih membuatku merasa tenang. Aku tersenyum kearahnya, dia hanya membalasku dengan tatapan yang tak dapat ku mengerti. Sangat sulit diartikan tatapan itu. Ku percepat langkahku, cepat-cepat kucari tempat duduk, aku tak boleh terlalu capek. Lalu, kudapati seseorang berdiri di hadapanku, tangannya membawa segelas minuman, diulurkannya padaku gelas itu. Dia Zhoumi, sahabatku sejak kecil. Dia memang jarang menampakkan batang hidungnya di kampus, aku hanya bisa bercerita ataupun menjalin komunikasi dengannya lewat telepon. Aku sangat merindukannya, rasanya sudah lama sekali aku tak melihatnya. Dia terlihat tampan malam ini, dengan tuxedo hitam dan jas hitam juga.
“saera ya. . .”ucapnya memecahkan lamunanku
“Ne, . .”
“kau terlalu rindu padaku ya, sampai-sampai tak menggerakkan matamu dariku, .”
“tentu saja. . .aku sangat merindukanmu Mi, .bukankah kau sahabat terbaikku, tak salah kan merindukkan seorang sahabat, .??”balasku dengan senyum terbaik yang ku miliki.
“tentu saja aku sahabat terbaikmu, dan aku akan selalu jadi sahabat terbaik lee saera, .”
“gomawo, . .”
“untuk, . .??”
“untuk semuanya, jaga dirimu baik-baik ya, . .”
“kau juga, .kapan sungmin akan menjemputmu kesini, .??”
“10 menit lagi. . .” ucapku bergetar, tak terasa air mataku mengalir, zhoumi mendekatkan tubuhnya kearahku, membiarkan kepalaku tenggelam didadanya dengan tangis yang sedikit ku tahan, aku tak mau menangis walau disaat seperti ini. Sungmin oppa akhirnya dating, disaat jungsoo oppa naik keatas panggung dan menyebut namaku. Dia mempersembahkan lagu ciptaannya untukku, tak kuhiraukan apa yang ingin dia lagukan. Aku terus melangkah menjauhi tempat itu.
“aku tahu, aku memang tak pantas untukmu lee saera, dan aku sudah menyerah membuatmu jatuh cinta padaku, kau bisa membenciku ataupun menghapusku dari hidupmu selamanya, tapi ku mohon dengarkan lagu ini. Sekali ini saja aku mohon”ucapnya dari atas panggung, yang membuat langkahku terhenti, dan tiba-tiba yoona telah berdri di belakangku.
“aku tahu, mungkin kau salah paham tentang hubunganku dan jungsoo, tapi percayalah dia hanya mencintaimu saera ya, dia bahkan rela tak tidur tiap malam, hanya untuk menjagamu saat dirumah sakit, matanya hampir seperti panda saat itu. Karena ia bahkan tak mau memejamkan matanya saat kau terjaga, hanya untuk menatap keteduhan wajahmu yang amat dia rindukan. Dia bahkan selalu membawakanmu bunga lily tiap pagi saat engkau belum membuka matamu. Dia sangat menyayangimu lee saeara, sayang yang tak sesaat. Aku memang tergila-gila padanya dulu, tapi aku telah menyerah sekarang, karena aku sadar bahwa tak ada lagi ruang untukku dihatinya walau hanya sedikit. Ku mohon maafkanlah dia, cintailah dia seperti dia mencintaimu, . .aku mohon saera ya. . .“ucapnya memohon dengan air mata yang mengalir
“aku tak bisa. . .maaf. . .”ucapku singkat lalu melangkah menjauhinya, ku dengar alunan musik akustik dari gitar, maafkan aku jungsoo oppa. Aku mencintaimu, aku amat mencintaimu. Aku tak ingin membuatmu terluka, aku tak mau kau merasa kehilangan karena aku tahu aku akan segera pergi. Entah itu dalam hitungan hari, jam, menit atau mungkin beberapa detik lagi. Kurasakan pusing di kepalaku, tak kuhiraukan rasa ini, tetap ku langkahkan kakiku menjauh dan menjauh, meski sempat kurasakan tubuhku mulai oleng, sungmin oppa memegangi tanganku, merangkul pundakku. Memapahku, meski sebelumnya ia berniat menahanku di dalam dan mendengarkan jungsoo oppa bernyanyi. Tapi, akhirnya dia menyerah karena melihatku mulai pucat.
“bawa aku cepat pergi dari sini oppa, aku igin tidur. Tubuhku sangat lelah. . .”keluhku pada sungmin oppa, dan ia bergegas menggendongku. Kepalaku benar-benar berat, hingga ku sadari banyak sekali darah kental keluar dari hidungku. Sungmin oppa buru-buru mengemudikan mobil kea rah rumah sakit, kutahan tangannya.
“kita pulang saja oppa, aku ingin menghabiskan waktu terakhirku dirumah. Aku tak mau dirumah sakit. . .”
“tapi, . .”
“oppa. . .jeball. . .”ucapku memohon
“baiklah. . .”ucapnya menyerah dan dengan ngebut membawaku pulang ke apartemen. Ku pejamkan mataku, mencoba mencari ketenangan dengan tidur. Semoga saat aku bangun nanti aku sudah menemukan kebahagiaanku, dan juga kebahagiaan untuk orang-orang yang aku sayangi.

Sungmin Pov

Pagi ini gelap, mendung dan awan tebal menyelimuti. Didepan tanah basah ini, aku menangis, merelakannya beristirahat dengan tenang. Dongsaengku satu-satunya, keluarga terakhir yang ku punya. Membiarkanku sendiri disini. Hanya ada aku dan Zhoumi disini, sengaja tak kuberi tahu jungsoo, karena itulah permintaan terakhir saera. Aku tahu betapa besar rasa sayangnya pada jungsoo, hingga dia tak mau membuat jungsoo menderita dan terluka karena kepergiannya. Pagi ini akan ku mencari jungsoo untuk memberikan sesuatu dari saera.
Ku hubungi dia menggunakan Hp Saera dan membuat janji di salah satu restoran ramen tempat mereka berdua biasa bertemu.
“Annyeong Jungsoo ya. . . .”
“Annyeong. . .apa yang terjadi dengan saera, .??”
“dia baik-baik saja, dia menyuruhku untuk memberikan ini padamu, .”ucapku sambil menyerahkan sesuatu dan surat
“apa ini, .??”
“kau bisa membukanya, .aku tak bisa menjelaskannya padamu, aku permisi dulu. 1 jam lagi pesawatku akan terbang, .sampai jumpa lagi jungsoo ya. . .”
“aku ingin menitipkan ini untuk saera, semoga dia suka dengan lagu yang sengaja ku buat untuknya”
“ne, .gomawo. .”
“annyeong, .”ucapnya setengah membungkuk
“annyeong, . .”balasku seraya menunduk
Ku langkahkan kakiku, seiring dengan jatuhnya air mataku. Saera tersenyumlah disana, aku akan baik-baik saja disini dan sepertinya jungsoo juga.

Jungsoo Pov

Aku masih terpaku melihat bungkusan didepanku, ada perasaan yang tak dapat kujelaskan. Apa yang sebenarnya terjadi pada saera. Ku langkahkan kaki terburu-buru keluar restoran, ku pacu mobilku dengan kecepatan penuh untuk pulang. Aku tak mau menangis di tempat umum, meski tak ada apa-apa, aku pasti akan menangis apabila mengingat Saera. Hanya dia yang bisa membuatku kacau. Saera aku merindukanmu, saera bisa kah kau dengarkan suara dalam hatiku, aku merindukanmu lee saera.
Segera ku buka bungkusan itu saat aku telah dikamar dan kukunci pintu kamarku. Betapa tercengangnya aku saat ku dapati lukisan seorang namja disana, sebuah sketsa yang sangat mirip dengan yang kutemukan di pameran semalam. Dan wajah namja itu sangant taka sing untukku, lama ku coba mencerna. Ini adalah wajahku, dan yang ada di pameran semalam adalah AKU. Jungsoo, kenapa kau lama sekali mencerna sketsa wajahmu sendiri. Segera ku buka surat yang tadi diberikan sungmin.

Jungsoo Oppa
Mianhae, .jeongmal mianhae. . .aku tak bisa menjadi tulang rusuk yang akan menegakkan tubuhmu. Mianhae jungsoo Oppa, .aku mencintaimu, Mianhae aku menyayangimu, mianhae aku tak mampu membuat rasa itu mati, karena mereka begitu mudahnya tumbuh bersama rapuhnya hidupku. Mianhae aku selalu melukaimu dengan kebohonganku, mianhae oppa, mianhae. . . .jeongmal mianhamida jungsoo oppa. .
Sketsa inilah yang selalu menemani hari-hariku saat aku tak bisa memandang wajahmu yang menenangkan hatiku. Ku kembalikan semua yang menjadi milikmu, aku telah tenang di surga sekarang oppa. Dan biarkan aku selalu tersenyum disini karena melihat senyumu juga. Lupakan aku oppa, yoona sangat menyayangimu, bukalah hatimu untuknya. Jungsoo oppa saranghamida. . .

Sudah 1 tahun, aku bertahan menyembuhkan hatiku, dan mencoba bertahan memulihkan yang berantakan karena kehilangan nyawaku. Sudah satu tahun juga ku coba membuka hati untuk yoona, namun masih terasa sangat sulit bagiku. Saera benar-benar membawa semua hatiku, bahkan ia tak menyisakannya sedikitpun untukku, bagaimana mungkin aku bisa hidup normal seperti biasa jika seperti ini. Semua orang sudah berusaha membantuku bangkit menjadi Jungsoo yang dulu. Namun, semuanya juga telah menyerah. Kuputuskan untuk pindah ke Tokyo. Meski disana aku tak punya siapapun, setidaknya itu lebih baik, agar aku segera bisa melupakan Saera dan membuka hatiku untuk orang lain, seperti yang dia inginkan.

Pagi ini, aku berjalan-jalan. Mencoba mencari hawa segar di Tokyo dengan berjalan kaki, eunsoo juga ikut bersamaku. Tapi, dia tak ingin ikut denganku jalan-jalan, ada tugas yang harus dia kerjakan katanya. Saat sedang asyik berkeliling kota, tiba-tiba saja ada seorang yeoja yang menabrakku.

“ah, Maaf. .. “ucapnya seraya membungkukkan badannya, hingga tak dapat kulihat wajahnya karena rambut panjangnya menjuntai. Aroma tubuh ini, mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang selalu membuatku tenang bila disisinya. Ku panggil dia sebelum beranjak jauh dariku.
“Noona, . .”teriakku membuatnya menoleh, wajah itu. Tak mungkin bisa sama dan semirip ini, apakah penglihatanku salah, .?? tuhan, apa yang terjadi pada mataku.
“iya ada apa, .??”ucapnya menyadarkanku, siapa yeoja ini. Mengapa bisa semirip ini dengannya, . .apa yang harus ku lakukan.

The END

“huah, , , ,akhirnya selesai juga FF perdanaku yang Geje ini. Hahahahaha. . . ..mian yang chingu semua kalau mengecewakan, namanya juga baru pertama, jangan lupa commen ya chingu, buat acuan aku untuk menulis FF selanjutnya *moga aja bisa nulis lagi*. . .. makachi .. .gomawo. . .udah baca FF GeJe que ne, . . .sampai jumpa di FF q selanjutnya”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s