.: SaTeuk Couple: Ramen Nouna Saranghae ~Part Four~ Ending :.

Ramen 1, Ramen 2, Ramen 3

Last Part

“sudah, jangan terlalu lama menatapnya seperti itu saeya~, lebih baik sekarang kau pulang, beristirahatlah dan segera selesaikan skripsimu, . .”suara kibum menyadarkanku dari lamunanku sendiri.

“ne, . .aku pulang dulu, sampai jumpa lagi kibum~sshi, . .annyeonghaseyo, . .”ucapku sambil menunduk dan berjalan menjauh darinya yang masih duduk dibangku itu, bangku dibawah pohon besar yang asri dan menjadi saksi betapa terlukanya hatiku hari ini melihatnya yang sudah semakin jauh dari jangkauanku.

Ku langkahkan kakiku masuk ke apartemenku, sudah lama sekali rasanya tak menghabiskan waktu disini. Tempat ini selalu saja menyimpan kenangan-kenanganku dengan jungsoo oppa. Kami sering menghabiskan waktu disini dulu. Ku rebahkan tubuhku di ranjang kamarku, meski tak sebesar ranjangku dirumah, namun masih bias memberikan kenyamanan untukku. Baru saja mataku terpejam, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki masuk kedalam apartemenku. Kuputuskan untuk segera bangkit dan bersiap-siap membawa benda keras yang bias ku jadikan senjata untuk membela diri.

“Nuguyo???” teriakku

“. . . . .. . .” tak ada balasan

“Nuguseyo??” Bentakku dan seketika kulihat wajah yang sangat kurindukan berdiri diambang pintu “leeteuk~sshi” gumamku datar

“Saeya~” gumamnya sambil berjalan mendekatiku

“jangan mendekat. . .”

“keundae , , .aku merindukanmu saeya~” ucapnya masih berusaha mendekatiku

“kubilang jangan mendekat” bentakku

“apa yang terjadi denganmu saeya~? Kenapa kau seperti ini padaku? Belum cukupkah kau menyiksaku dengan menjauhiku?”

“apalagi yang kau inginkan dariku?? Aku lelah, biarkan aku mencoba bernafas leeteuk~sshi”

“apakah kau juga tak mau membiarkanku bernafas saeya~?? Kaulah yang kubutuhkan untuk bernafas”

“hmm, . .” aku tersenyum meremehkan “dalam kenyataan yang sudah sangat jelas seperti ini, kau masih saja bilang kau membutuhkanku? Bukankah sudah cukup dia disisimu? Tak cukupkah kau melukaiku?”

“aku akan menjelaskan semuannya saeya~, izinkan aku menjelaskan semuanya,”

“tak perlu dijelaskan pun aku sudah mendapatkan penjelasan dari matamu leeteuk~sshi, bukankah mata itu jendela hati? Aku sudah lelah. . .ku mohon jangan ganggu hidupku lagi, . .jeball”

“aku tak pernah mencintainnya saeya~. . “ ucapnya tanpa menghiraukan kata-kataku

“mwo???”

“yang ada dipikiranku hanya tentangmu, sesungguhnya akulah yang lebih tersiksa karena semua penolakanmu ini saeya~, aku mencoba untuk tetap berdiri dan menegakkan langkahku untuk bias meraihmu, kau tahu? Wanita itu hanyalah masa laluku yang membutuhkanku, dia terserang Neurosarcoma dan umurnya tak lama lagi”

“mwo???” pekikku terkejut “jangan membuat alasan leeteuk~sshi, dia tak terlihat seperti orang sakit, jangan coba-coba menipuku dengan ini, aku benar-benar tak akan percaya padamu lagi leeteuk~sshi, jadi percuma saja kau membuang tenagamu untuk menjelaskan semuanya, aku tak akan mau mendengarkannya. . ..”

“dia memohon kepadaku untuk berada disisinya sebelum dia benar-benar tiada, dia memang cinta pertamaku, namun, bagiku tak penting siapa yang pertama, yang jelas bagiku kaulah yang terakhir saeya~, trust me. .” ucapnya lalu berlutut dengan air mata yang disembunyikannya dibalik kepalanya yang tertunduk

“sudah selesaikah kau mengatakan scenario hafalanmu, .??sekarang bisakah kau tak menggangguku lagi park jungsoo~sshi??” ucapku ketus tanpa melihat wajahnya

“. . . . . . . .” tak ada respon yang kudapat darinya, kudapati bayangannya bergetar dari ekor mataku. Dia benar-benar terluka karena aku, aku tak boleh rapuh. Aku tak boleh lemah hanya karena hal ini.

“baiklah, . . kalau itu maumu, aku tak akan mengganggumu sekarang, pikirkan kata-kataku yang tak akan pernah melepaskanmu walau kau terus berontak atau bahkan mengancamku dengan hal yang paling memungkinkan untuk melukaiku sekalipun, aku tak akan melepaskanmu. Garis hidupmu adalah bersamaku begitu juga aku saeya~” ucapnya lalu pergi dengan suara debaman pintu yang keras

Hanya suara tangisku yang terdengar saat ini, aku telah melukainya sekaligus membunuh diriku sendiri. Tak tahu akan jadi apa aku tanpanya, aku benar-benar rapuh dan susah menentukan pilihan. Kau tak mengerti posisiku saat ini leeteuk~sshi. Aku ada dalam kebimbangan atasmu dan diriku sendiri yang tak seharusnya disisimu. Kau terlalu sempurna untuk gadis rapuh sepertiku, aku tak seharusnya menjadi bagian pentingmu dimasa depan. Kau berhak mendapatkan yang lebih baik dariku, yang akan menemani masa depanmu kelak.

-2 bulan kemudian-

2 hari yang lalu aku telah lulus dari universitas. Dan hari ini kuputuskan untuk kembali ke cina dan menetap disana. Hidupku di Korean sudah cukup sampai disini, sekarang  aku harus mengabdi pada Appa dan eomma. Meninggalkan semua kisah masa laluku, tentang Junsoo oppa dan semuanya. Dan sudah 2 bulan ini aku tak mendapatinya dimanapun itu, dia menghilang sejak kejadian hari itu, saat kami bertengkar hebat. Meski ada rasa sesak yang menguasai seluruh rongga dadaku, aku akan tetap mencoba bertahan dan tak terus menerus menyesali masa laluku. Mungkin ini adalah jalan yang terbaik untukku, tanpa harus ada dia disampingku, aku harus bias bertahan tanpanya.

Meski awalnya seperti kehilangan kesadaran atas diriku sendiri. Namun, aku terus mencoba bertahan demi semuanya.

“Saeya~”

“ne. . “ ku balikkan tubuhku kearah sumber suara yang sudah sangat familiar ditelingaku

“apakah kau yakin tak akan menemui Hyung, mungkin kau ingin mengucapkan kata perpisahan dengannya?” suara ini akan kurindukan di masa depanku, dia juga telah menjadi bagian dari hari-hariku disini, dia yang telah mengajarkanku banyak hal yang sangat berarti untukku.

“Aniyo~ lebih baik seperti ini, agar tak ada yang terluka” jawabku santai dengan senyum yang sedikit memaksa

“kau yakin?”

“ne. . “ ucapku dengan anggukan mantap

“baiklah, . .”

“gomawo bum~ah, gomawo untuk semua yang telah kau berikan untukku, aku akan sangat merindukanmu” ucapku dan memeluknya erat, tak terasa air mataku jatuh membentuk sungai kecil di pipiku.

“ne, . .sudah jangan menangis lagi, aku akan menjaga Hyung disini”

“ne, jagalah dia untukku, sampaikan hatiku untuknya, sejauh apapun aku, nafasku masih untuknya” kulepaskan pelukaku dan menghapus air mataku mencoba tersenyum meski sulit

“ayo kita berangkat, . .”

“chakkaman, . .Eunsoo, dimana eunsoo??” tanyaku

“dia, katanya dia akan menyusul nanti dibandara, apakah dia belum menelponmu?”

“belum, yasudahlah ayo kita berangkat” ajakku padanya

Perjalanan dari apartemenku kebandara membutuhkan waktu sekitar 1 jam, dan aku juga akan melewati dorm super junior yang memang letaknya tak begitu jauh dari apartemenku. Dadaku berdegup kencang, nafasku memburu, pikiranku kalut. Kilatan kejadian di masa lalu mengalir bagaikan kaset yang diputar kembali. Aku benci saat-saat seperti ini, perpisahan merupakan hal yang sangat aku benci didunia ini. Tuhan, berikan aku kekuatan, jangan biarkan aku rapuh saat ini. Didepan adalah dorm super junior, sepi sama seperti hari-hari sebelumnya. Tempat ini memiliki banyak kenangan masa laluku, kurasakan mataku memanas dan butir-butir keil air mata jatuh membasahi tanganku. Aku benar-benar seperti orang yang rapuh sekarang, melihat kenyataan bahwa aku akan benar-benar meinggalkannya dan melepaskannya, rasanya sangat sulit bagiku untuk tak meluapkan semuanya.

Meski terasa seperti sebuah penyesalan, namun sebenarnya aku lebih bersyukur bisa menemukan pria seperti dia, tak pernah menyesal menerima kenyataan bahwa aku mencintai pria yang berhati malaikat sepertinya dan di cinta olehnya. Namun, itulah yang membuatku tak sanggup untuk berada disisinya, kenyataan bahwa dia terlalu sempurna untuk bersanding dengan kerapuhanku membuatku tak sanggup membiarkannya menjadi bagian dari masa depanku. Dan berpisah adalah hal terbaik yang memang harus ditempuh.

“sampai, . .” suara kibum membuatku terbangun dari pikiranku sendiri, kuhapus sisa-sisa air mata di ekor mataku, aku tak mau mewarnai perpisahan ini dengan air mata

“mwo, .?? cepat sekali”

“kau saja yang sibuk dengan pikiranmu sendiri sampai tak menyadari kalau kita sudah sampai”aku hanya membalas kata-katanya dengan senyuman

“kajja, pesawatmu akan berangkat, “ lanjutnya

“ne. .” kami turun dan mengambil barang-barang di bagasi

“Saeya~” terdengar seseorang memanggilku setengah berteriak, kupincingkan mataku mencoba menangkap bayangan yang sudah sangan ku kenal melambai ke arahku

“eunsoo~ya” gumamku pelan dan balas melambai padanya

“kajja. . .” ucap kibum setelah menurunkan barang-barangku

Kami berjalan mendekati eunsoo ,

“ah~ saeya~ kenapa kau harus meninggalkanku disini?” rengeknya sambil memelukku, kudapati donghae berdiri dibelakangnya dengan senyum khas yang tersungging dibibirnya

“masa aktifku dikoreasudah selesai soo~ya, lagipula kau sudah menemukan orang yang tepat” ucapku setelah melepaskan pelukannya dan melirik nakal pada donghae yang hanya bisa mengusap belakang lehernya, malu

“kau ini. . “ balasnya cemberut

“baiklah, sepertinya pesawatku akan berangkat. .”

“oke, jaga dirimu baik-baik disana” ucap eunsoo seraya memelukku

“jaga dirimu disana saeya~ jangan lupa kabari kami disini” kini kibum yang memberikan ceramahnya padaku

“ne, .. “ ucapku memeluk mereka satu per satu

“heh ikan, . .jaga sahabatku baik-baik, cepat ajak dia menikah. .” godaku pada donghae

“ne, tenang saja” jawabnya singkat sambil menepuk kepalaku pelan

“annyeonghaseyo yeorobun, sampai jumpa” ucapku dan berjalan menjauhi mereka, sesekali kutolehkan kepalaku kebelakang dan melambaikan tanganku pada mereka, kurasakan kakiku berat, seperti ada batu yang kutarik. Berat sekali meninggalkan tempat ini. Membayangkan aku tetap disini dengan semua kemungkinan kejadian tak terduga yang terjadi membuatku kian sesak nafas. Langkahku semakin cepat ke pesawat. Ku cari kursi penerbangan sesuai dengan tiketku. Untung saja tempatnya dekat dengan jendela, jadi aku tak akan terlalu bosan melalui perjalanan kali ini. Ku pasang headset ditelingaku, mulai memutar beberapa lagu dari Ipodku. Tak terasa aku tertidur dan saat terbangun, betapa terkejutnya aku saat seseorang disampingku menggengam tanganku, kurasakan tanganku berkeringat, pasti sudah sangat lama dia memegang tanganku, tapi siapa orang ini. Kutarik tanganku cepat, dan membuat orang yang sedari tadi menutupi wajahnya dengan topi itu terbangun dan membukanya.

“kau, apa yang kau lakukan disini?” tanyaku terkejut dengan kehadirannya

“aku akan memastikanmu sampai dirumah dengan selamat” ucapnya santai

“aku tak butuh bantuanmu” ucapku dan memalingkan wajahku darinya

“jahat sekali kau ini, aku Cuma tak ingin kau terluka saeya~”

“sudahlah, jangan membuatku kian sulit melepasmu leeteuk~sshi”

“kenapa kau selalu mencoba melepaskanku? Aku tak ingin kau melepaskanku saeya~” ucapnya memohon

“tapi, semuanya akan sulit saat kita bersama oppa”

“tak peduli betapapun sulitnya, aku akan tetap bertahan disisimu , kumohon saeya~ izinkan aku selalu disisimu”

“kenapa kau keras kepala sekali?” ucapku kesal

“karena aku menginginkanmu saeya~. .”

“hah~ baiklah, .”

“ne??” pekiknya

“baiklah, aku menerimamu”

“jinjayo??”

“hem~ saranghae”

“nado saranghae” kurasakan wajahnya mendekat ke wajahku, nafasnya bermain-main di wajahku, kurasakan bibir kami beradu. Ku balas ciuman lembutnya dibibirku, lama sekali hingga tak kurasakan tanganku yang sudah melingkar di lehernya, tangannya bermain-main dipunggungku, mengusap-ngusapnya lembut.

Akhirnya kami sampai di cina, orang utusan appa menjemput kami dibandara.

“eomma. . .”teriakku saat melihat beliau didepan rumah sedang merapikan bunga di vas “ini jungsoo”

“annyeonghaseyo eomonim” sapanya sedikit gugup

“jungsoo~sshi, bagaimana bisa kau disini?” Tanya eomma heran dengan raut muka yang aneh

“em, . .saya. . .”

“dia mengantarkanku eomma,” jawabku buru-buru menyela kata-katanya, sangat terlihat kalau dia gugup

“kalau begitu kita masuk dulu,” ajak eomma lalu berjalan dulu didepan kami

“jangan gugup” bisikku padanya

“ne, .. “ balasnya sambil menggengam tangaku

“appa, bogoshipoyo” sapaku padanya saat kami didalam, beliau sedang asyik membaca majalah, hari ini beliau tidak ke kantor rupanya. Kupeluk tubuhnya singkat dan mencium pipinya

“ah~ putri kecilku, dengan siapa kau pulang? Siapa namja ini?”

“appa, ini junsoo. .”

“annyeonghaseyo abeonim” sapanya sambil membungkukan badan

“duduklah dulu, saeya~ masuklah ke kamar, appa ingin bicara dengannya” ucap appa memerintahku, ada apa ini?

Tak biasanya appa seperti ini pada temanku. Apakah ada yang salah dengan junsoo? Apa yang terjadi sebenarnya? Aku bertanya-tanya dalam diam dikamarku. Apa yang akan terjadi padanya. Saat rasa khawatirku belum selesai, tiba-tiba kudengar suara keras dari bawah

‘PRAAK’

Adaapa ini? Apakah appa marah? Lindungilah jungsoo oppa ya tuhan. Kuberanikan diri keluar dari kamar, ingin memastikan situasi yang sedang terjadi di luar, saat Hp ku berdering. Buru-buru kubuka, ada pesan masuk. Kulihat nama Jungsoo oppa tertera di bagian pengirim dan mataku pun turun membaca kombinasi huruf dibawahnya

Kau benar dengan semua argumenmu selama ini saeya~

Semuanya sangat sulit untuk kita jalani,

Mianhae, aku kembali ke seoul tanpa pamit padamu

Semoga kau menemukan kebahagiaanmu disini. .

Dengarkan apa yg abeonim katakan padamu^^v

Saranghae

 

Tubuhku lemas, benda elektronik yang semula bertengger manis di jari-jariku jatuh begitu saja. Lututku lemas, tak sanggup menahan berat tubuhku lagi. Tangisku pecah seketika, aku hanya bisa menangis dalam diam. Tak ada sedikitpun suara yang kukeluarkan, hanya butir-butir air mata yang jatuh membentuk sungai keci dipipiku. Baru saja aku meletakkan mimpiku padanya, meletakkan hatiku padanya dan melengkapi tulang rusuknya untuk tetap tegak berdiri. Dan semua runtuh hanya karena kekerasan hati appa, rupanya appa tidak main-main dengan apa yang pernah diucapkannya dulu, bahwa beliau tidak akan membiarkanku bersama dengan junsoo oppa, karena dia seorang artis. Kurai kenop pintu dan memutarnya kasar, ku langkahkan kakiku cepat keruang tamu, mencari Appa, menuntut kejelasan dari semua ini.

“appa, . .apa yang appa bicarakan dengannya?”

“hanya pembicaraan laki-laki yang tak perlu kau ketahui” jawabnya santai sambil menyeruput kopi di cangkirnya

“kenapa Appa mengusirnya? Apakah Appa tidak suka padanya?” tanyaku hati-hati meski sebenarnya hati berontak ingin menuntuk kejelasan

“Appa sudah menyiapkan seseorang untukmu, jadi lebih baik kau lupakan saja jungsoo mu itu. Apa yang bisa kau harapkan dari seorang artis sepertinya”

“appa, . .”

“sudahlah, lupakan saja dia”

“andwae~ andwae~. . .” ucapku histeris diiringi gelengan kepalaku yang kian kuat

“noona, . .”

“andwae~” ucapku setengah berteriak dan mencoba menyadarkan diriku

“noona, harap pasang sabuk pengaman anda, pesawat akan landing”

“ah~ ne. . .” jawabku gugup dan menahan malu, ternyata hanya mimpi. Aku menarik nafas panjang dan membuangnya sedikit keras. Untung saja itu semua hanya mimpi, kenapa semuanya seperti kenyataan. Nafasku semakin sesak membayangkan mimpi itu, apakah mungkin itu tanda dari semua penolakanku ini. Meski aku selalu menolaknya, aku tak ingin kehilangannya. Menakutkan rasanya membayangkan bahwa dia akan jauh dariku, bahwa Appa akan menola menerimanya. Semakin kupikrkan semakin sulit rasanya untukku menerimanya.sepanjang perjalanan, hanya pikiran tentang mimpiku tadi yang memenuhi benakku. Hingga kurasakan mobilku berhenti secara mendadak, dan membuat tubuhku maju secara keras dan membentur kursi didepanku,

“noona, gwenchana?” meski tinggal di cina, namun kebanyakan anak buah appa adalah orangkorea,

“ne, apa yang terjadi?” tanyaku santai meski terasa agak nyeri pada perutku yang tiba-tiba shock

“ada yang menyebrang sembarangan, sepertinya anak kecil”

“kalau begitu, kita lihat keluar”

“ne” rasanya kepaa kian sakit, mungkin karena benturan tadi. Kubuka pintu mobilku, dan betapa terkejutnya aku melihat seorang anak laki-laki tengah duduk tersungkur didepan mobilku

“lie yien” sapaku singkat dan mendekatinya “kau taka apa-apa?” tanyaku sambil membantunya berdiri

“noona, kenapa mau menabrakku?” jawabnya singkat dengan nada lugu khas anak kecil

“maafkan noona, apakah ada yang sakit? Kemana ibumu?”

“aku sendirian, ibu dirumah, aku mau ke taman, noona mau ikut?”

“ayo noona antar, kau seharusnya tak pergi sendiri lie yien, noonakansudah pernah bilang padamu”

“baiklah, ayo kita ke taman” ajaknya dan menarik tanganku untuk mengikuti langkah kecilnya

“kau mau main apa?Tamansudah sepi, dan hari sudah sore”

“aku mau melajukan kapal ini, aku mau mengirim pesanku untuk ayahku” ucapnya sambil mengacungkan kapal yang terbuat dari kertas

“ayahmu kemana?”

“ayah sedang berlayar, dan tak kunjung pulang. Aku merindukan ayah” kulihat air mata mulai memaksa keluar dari ekor matanya

“baiklah, sini noona temani. Nanti saat pulang, bagaimana kalau kita beli ice cream? Noona yang traktir, sebagai ucapan permintaan maaf noona karena hamper menabrakmu, bagaimana? Kau mau?”

“Oke” ucapnya riang sambil membulatkan tangannya membentuk huruf ‘O’, melihat matanya yang begitu tulus saat berbicara, membuatku selalu ingat pada jungsoo. Aku selalu mengingat mata jungsoo oppa dari matanya. Ku dapat ketenangan saat menatapnya, selalu seperti itu. Mata yang tulus dan meneduhkan hatiku. Setelah dari taman, kami mampir ke kedai ice cream terdekat dan mengantarnya pulang sebelum hari gelap.

“sampai jumpa lahi lie yien” ucapku padanya saat kami sampai didepan apartemennya

“sampai jumpa lagi noona, noona kesini sebentar”

“mwo. .??”

“sini, bungkukan badanmu” kubungkukan badanku menuruti ucapannya, dan kurasakan dia mencium pipiku kilat

“sampai jumpa noona” ucapnya tak mau bertanggung jawab dan lari meninggalkanku, aku hanya bisa tersenyum menahan tawa karena keusilannya, dasar anak kecil.

***

“kemana saja kau saeya~?” Tanya eomma saat kami makan malam di meja makan

“tadi, aku mampir sebentar ke taman”

“bagaimana dengannya?”

“ne?”

“namja yang kau ceritakan pada eomma, apakah kalian sudah??” goda eomma padaku

“aniyo~ aku dan dia tak ada hubungan apa-apa”

“apakah kau tak jujur padanya?” Tanya eomma mengintrogasi

“sudahlah sayang, jangan memaksanya bercerita di meja makan” ucap Appa menghentikan pembicaraan yang hanya bisa membuatku diam ini. Mengapa eomma menanyakan hal yang bahkan aku tak berfikir untuk menyelesaikannya. Suasana hening menyelimuti, hanya suara sendok yang sesekali membentur piring keramik.

“kalau begitu, lupakan saja dia. Eomma dan Appa sudah punya calon untukmu” ucap Appa disela-sela keheningan

‘DEG!’ mimpi itu, apakah ini masih bagian dari mimpi itu. Kenapa terasa nyata sekali?.

“mwo, .. ?? eomma dan appa sudah punya calon untukku? “ pekikku menahan air mata yang sudah hamper berlomba untuk jatuh

“besok kalian akan bertemu, dan Appa harap kau bisa menerimanya saeya~” lanjut Appa tak menghiraukan pertanyaanku. Appa meninggalkan meja makan lebih awal dan meninggalkanku dengan  pikiranku sendiri. Apa-apaan ini, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa jadi rumit seperti ini? Kenapa semuanya membuatku sulit?. Ah~ susah sekali membayangkan aku bernafas tanpa melihatnya disisiku. Aku benci diriku sendiri yang pengecut dan tak mau mengungkapkan semuanya lebih awal. Langkahku gontai menuju kamar, masih sibuk memikirkan kemalangan yang terjadi padaku. Apa yang harus kulakukan sekarang? Apakah aku harus lari dan memintanya menikahiku lebih dulu, meninggalkan semua harga diriku demi cinta yang gila ini. Tuhan, kenapa kau memberikanku hidup yang sangat sulit seperti ini. Aku benar-benar tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika aku benar-benar menikah dengan namja pilihan appa itu. Apa yang harus kulakukan tuhan, berikan aku jawabanmu sekarang.

‘tok. . .tok. . .tok. . .’ “Saeya~ ini eomma, boleh eomma masuk?”

“iya eomma, aku didalam” jawabku setengah berteriak, agar beliau mendengar suaraku

“apa yang sedang kau lakukan?”

“hanya berbaring eomma, lelah sekali rasanya hari ini” ucapku lalu bangkit dari posisi berbaringku

“kau baik-baik saja?”

“ne, mwoya?”

“apakah aku benar-benar tak ingin mengatakan sesuatu pada eomma?”

“aniyo~ waeyo eomma?”

“apakah kau benar-benar menerima keputusan Appa?” Tanya eomma hati-hati tak ingin menyakitiku

Airmataku jatuh bergantian, membentuk aliran-aliran beraturan yang kian lama kian deras “apapun yang membuat Appa dan Eomma senang, akan aku lakukan” suaraku tercekat, menahan sakit yang kian menohok hatiku, membohongi hatiku dengan mengatakan aku baik-baik saja, benar-benar sakit rasanya.

“apakah kau yakin?” Tanya eomma mencoba menyakinkan

“ne, ini sudah saatnya aku berbakti pada eomma dan appa” jawabku mantap dengan air mata yang sedikit kutahan

“kalau begitu, istirahatlah nak. Jangan menangis lagi, eomma percaya kalau kau akan bahagia bersama orang yang tepat”

“ne eomma” kupeluk eomma agak lama, sampai akhirnya beliau melepaskan diri dan mendium keningku kilat. Langkahnya perlahan meninggalkan kamarku dan mematikan lampu, menggantinya dengan lampu tidur yang ada di samping tempat tidurku, persis saat aku kecil dulu. Wajahnya yang rapuh seiring usia, membuatku selalu tak bisa menolak semua keinginannya, saat aku harus seperti ini dan mengorbankan perasaanku, rasanya tak akan sama dengan yang beliau rasakan saat mengandungku dulu. Aku akan selalu mempercayakan kebahagiaanku pada mereka, orang tuaku yang aku hormati dan sayangi.

Malam rasanya berjalan sangat cepat. Kurasakan alarmku berdering, sudah jam 5 ternyata. Buru-buru aku mandi dan merapikan diriku, aku akan membantu eomma menyiapkan sarapan, meskipun banyak sekali pembantu dirumahku ini. Namun, eomma akan selalu menyempatkan diri menyiapkan sarapan untuk appa, itulah yang membuat cinta keduanya tetap bertahan di usia yang sudah lanjut seperti ini.

“eomma, . .” sapaku saat menemukan sosok beliau di dapur

“kau sudah bangun, bagaimana tidurmu semalam? Apakah nyenyak? “

“nyenyak sekali, eomma bagaimana?”

“tentu saja eomma tak akan kalah sepertimu, nanti ikut eomma ke butik sebentar ya?Adabaju yang harus diambil untuk acara nanti malam”

“kenapa harus mengeluarkan banyak uang hanya untuk acara pertemuan keluarga saja?”

“karena yang kau temui adalah orang yang special”

“hah~ baiklah,” seringaiku malas-malasan

“tolong panggilkan appamu, sarapannya sudah siap”

“ne” kunaiki tangga yang menghubungkan antara ruang bawah dengan ruangan diatas, ku telusuri lorong kecil disebelah kanan tangga, disini hanya ada 1 ruangan, yakni kamar utama milik eomma dan Appa, sedangkan di sebelah kiri merupakan jalan menuju kamarku dan balkon.

“Appa, sarapan sudah siap” ucapku setengah berteriak setelah mengetuk pintunya

“ne, Appa segera turun”

“ne”

***

Setelah mengantarkan eomma tadi siang, aku bermalas-malasan di kamar. Mengirim pesan singkat pada eunsoo dan mengabari kabarku yang akan segera menikah dengan namja pilihan appa. Dia bilang tidak terkejut, karena orang seperti Appa sudah bisa ditebak jalan pikirannya. Anak ini, selalu saja seenaknya kalau berbicara. Kudengar Hp ku berdering, ada pesan masuk. Tapi, kali ini bukan dari eunsoo. Ku baca pengirimnya

‘Jungsoo oppa’ gumamku lirih dan mataku segera turun membaca isinya

Bagaimana kabarmu disana saeya~

Nanti malam, aku akan dijodohkan oleh Appa dengan rekan bisnisnya

awalnya aku menolak, namun kurasa ini yg terbaik

semoga kau juga segera menemukan orang yang tepat disisimu saeya~

Setidaknya, aku tak akan mengganggumu lagi^^v

Jaga dirimu baik-baik saeya~

Saranghae saeya~

Yongwonhi :*

 

Ku jatuhkan benda elektronik itu membentuk sebuah benturan yang tak cukup menimbulkan suara yang keras, tapi cukup membuatku ikut tersungkur di lantai, lututku lemas, tak bisa menompang berat tubuhku. Kenapa semuanya semakin sulit seperti ini? Dia juga tak akan memberiku ruang untuk bernafas lagi, semuanya akan terasa sangat sulit setelah ini.

‘dasar bodoh’ gumamku pelan diantara butiran air mata yang kian teratur mengalir membasahi pipiku.

‘Kenapa kau begitu bodoh saeya~, kenapa kau bodoh sekali? Kenapa?’

***

Malam ini aku memakai gaun yang dibelikan eomma tadi siang. Gaun santai berwarna peach selutut dengan payet menghiasi disana-sini. Kupadukan dengan high heels berwarna senada dengan tas pesta kecil berwanra cream. Kupulaskan bedak tipis dan lipstick berwarna sedikit lembut, kubiarkan rambut sebahuku tergerai dengan kutambahkan acsesories berbetuk pita. Sepanjang makan malam, aku hanya menunduk mendengarkan pembicaraan para orang tua, anak rekan kerja appa yang akan dijodohkan denganku itu masih belum datang. Masih dalam perjalanan katanya, aku juga tak peduli.

Kejadian tadi sore masih membayangi benakku, dia akan dijodohkan? Tapi, dengan siapa? Kenapa dia bodoh sekali? Kenapa harus menerima perjodohan itu? Apakah dia hanya berpura-pura mencintaiku? Baboya~

Aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri, tak menghiraukan semua orang disekitarku yang sedang asyik mengobrol. Samapi tiba-tiba. .

“Mianhamida” ucap seseorang dengan nafas terputus-putus, aku masih belum tertarik melihat wajahnya

“kenapa lama sekali?” sapa suara seorang wanita yang kuyakini adalah ibunya

“mianhamida eomma, Aboji, Abeonim, eomonim dan Saera~sshi” aku masih terus saja berkonsentrasi pada makananku, kurasa jajaran makanan ini lebih menarik daripada harus melihatnya, sampai kurasakan siku eomma bergerak kearah sikuku, memintaku untuk sedikit hormat padanya. Dan betapa terkejutnya aku saat kulihat wajah namja yang akan menjadi calon suamiku ini.

“junsoo oppa?? Apa yang kau lakukan disini??”

“jadi, kalian sudah saling mengenal??” terdengar nada heran dari Appa dan Abeonim yang menyahut secara bersamaan

“Saeya~ tentu saja untuk bertunangan denganmu”

“jadi. . .kau. . .ah~” aku kehabisan kata-kata dan berlari meninggalkan mereka di meja makan. Aku merasa ditipu, apa yang sebenarnya dia rencanakan. Kenapa tega sekali membohongiku, aku berlari tanpa tujuan, sampai kutemukan halte tak jauh darisana.  Ku hempaskan tubuhku, terduduk dengan tangis diamku. Apa yang sudah kau lakukan padaku jungsoo oppa, tega sekali kau.

“Saeya~” ku dengar suaranya samara-samar memanggilku “saeya~” kudengar nafasnya memburu saat dia sudah menempati tempat kosong disampingku

“ kenapa kau membohogiku?”

“aku tak pernah membohongimu saeya~ aku benar-benar tak tahu kalau kaulah yang akan dijodohkan aboji denganku, aku hanya tahu kalau aboji akan menjodohkanku dengan anak dari rekan bisnisnya. Mianhamida”

“kau bohong”

“andwae~ aku benar-benar tak berbohong saeya~, percayalah padaku, jeball” ucapnya sambil mengengam tanganku

“. . . . .” aku hanya diam

“bukankah ini lebih baik? Kita tak perlu meminta restu karena kita sudah direstui”

“baboya~ oppa baboya~” kulayangkan pukulanku kedadanya yang bidang

“Ramen Noona Saranghae” ucapnya lalu mencium puncak kepalaku

“nado saranghaeyo oppa” balasku dan mengacup bibirnya singkat.

***

AUTHOR POV

“Appa. . .bangun” ucap seorang gadis kecil membangunkan seorang pria dari tidurnya yang nyenyak.

“Jungsae, apa yang kau lakukan? Appa masih ngantuk” jawab pria itu malas-malasan,

“Chagiya~” teriak seorang wanita dari lantai bawah rumahnya

“ne”

“sudah kubilangkan, eomma akan marah kalau Appa tidak bangun” ucap gadis kecil itu polos. Pria itu bangun dari tidurnya dan mengangkat anak kecil itu menuruni tangga rumahnya.

“hari ini kau mau kemana? Appa akan mengajakmu jalan-jalan” rajuk pria itu seraya menggoda anaknya

“aku ingin kita tamasya ditaman tengahkota”

“baiklah, kita tamasya”

“okeh, eomma akan menyiapkan bekal untuk kita, sekarang kita sarapan dulu”

“siap” jawab  gadis kecil dan pria itu serempak

Keluarga park kecil yang bahagia, menghiasi hari-hari mereka dengan senyuman. Sekarang mereka tinggal di cina, meski konsekuensinya, sang suami harus bolak-balik cina-korea seminggu sekali. Akhirnya, ramen noona menemukan kekasih hatinya, dan memiliki seorang malaikat kecil yang meramaikan kehidupan mereka.

-END-

Akhirnya kelar juga part terakhirnya, mianhamida para readers yang uda nungguin. Saia baru sempat membuat, padahal sudah kependem di otak sejak 2 bulan lalu. Mianhamida sekali lagi^^v

Gamsha buad yang uda baca, commend and like^^v

That’s too much usefull to me, mohon commennya ya chingu🙂

Gamshamnida sekali lagi. .

Big hug and chu :*

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s