I’ll Wait You Until The End of Time (Forever With You) [Part 9-END]

Author : Anggi Putri Kusuma Wardhini a.k.a Song Ji Young

Cast       : Kim Ryeowook

Song Hye Raa  (Adek saya..)

Zhoumi

 

   Annyeong😀

nah di part ini gak ada lagi TBC nya.. silahkan dibaca😀

 

Part  sebelumnya

 

sesampainya dirumah, Hyung memberiku sebuah surat. dari Hyeraa. Oppa, jika kau telah membaca surat pendek ini, bisakah kau menelfonku? itulah isi suratnya

 STORY

          Kulangkahkan kakiku kembali menuju kamar. Di kamar, ku buka kertas yang di berikan Hyung.

 

Oppa, jika kau telah membaca surat pendek ini, bisakah kau menelfonku?

          Hyeraa? Tanpa berfikir panjang, aku telfon Hyeraa

 

“yeboseyo?”

 

“Oppa?”

 

“Ne. Gwenchana?”

 

“Ah~ Gwenchana oppa. Oppa, ottokke jinaeseyo? Jal jinaeyeyo?”

 

“Ne. neo?”

 

“jal jinaeyeyo.”

 

“Kau mencariku? Ada apa?”

 

“Aku ingin berbicara dengan oppa, bisa kah kita bertemu?”

 

“Eonje?” *kapan?*

 

“Lusa. Di tempat pertama kita bertemu. Bisa kah?”

 

“Aku usahakan.”

 

“Baiklah. Jam 12.30 ya Oppa?”

 

“Ne. that’s it?”

 

“Ne……. Aku harap oppa datang… something I have to talk with you.”

 

“Ne. sudah malam kau tidur lah.”

 

“Ne Oppa. See you there.”

 

“Ne. Sleep well Hyeraa-ah.”

 

~~~~~

 

Present day

 

“Oppa. Jeongmal mianhae, aku terlambat, maaf membuatmu menunggu.”

 

Ah suara ini. Ku balikan badan dan ku lihat sesosok wanita berparas cantik berdiri di belakangku.

 

“Ah, Hyeraa-ah, gwenchanayo. Silahkan duduk”

 

Melihatnya duduk disebelahku membuat ku teringat kejadian 6 bulan yang lalu. Yah tepat 6 bulan yang lalu. Tepat di tepi sungai ini. Semua kenangan itu kembali berputar didalam ingatanku. Ku pandangi wajah Hyeraa. Sudah hampir dua minggu ini aku tidak bertemu dengannya. Jujur saja aku senang Hyeraa mengajakku bertemu hari ini.

 

“Hyeraa-ah, katanya ada yang mau kau sampaikan padaku. Apa?”

 

“Ah itu, hmm… begini oppa, aku mau bilang …”

 

“Mwoyeyo?”

 

“Hmm.. aku mau bilang terimakasih telah membantu ku selama ini.”

 

“Hanya itu?” tanyaku. Hyeraa hanya tersenyum. “Ada yang lain?” tanyaku

 

“Ani.”

 

“Jinja?”

 

“Jinja.”

 

“Baik lah. Jadi kapan kau berangkat?”

 

“Ah, menurut jadwal, kira kira 10 hari lagi. Setelah semua dokkumen selesai, aku akan pergi.”

 

“Lalu tanganmu?”

 

“Dokter Lee bilang ini sudah lebih baik. Menang aku masih harus melakukan terapi kecil. Tapi itu bisa dilakukan dirumah.”

 

“Hmm, jadi kau akan tetap pergi ke Italia?” tanyaku

 

“He’em”jawabnya sambil menantap lurus kedepan.

 

Terjadi keheningan diantara kami. Sebenarnya aku ingin menanyakan masalah namja yang di rumah sakit, tapi sepertinya Hyeraa masih ingin bicara.

 

“Hyeraa-ah, Apa kau benar benar akan pergi?”

 

“Ne?”

 

“Apa kau yakin akan ke italia?”

 

“Ne.” jawabnya dengan senyuman.

 

“Lalu bagaimana dengan Namjachingu mu?” tanyaku sedikit ragu

 

“Ah?” Hyeraa terlihat sangat kaget dengan apa yang au ucapkan. Tetapi kemudian Hyeraa tersenyum. “ Aku tau dia pasti akan mengerti.”

 

“Jadi, kau sudah memiliki namjachingu?” tanyaku kaget. Jawaban Hyeraa diluar perkiraanku.

 

“Hmmm… sebenarnya bukan namjachinguku. Baru orang yang aku suka.” Jawabnya. Mendengar jawabannya membuat aku sedikit lega. Sedikit. Sedikit.

 

“Namja yang menelfonmu waktu di dapur itu?”

 

“Ne?”

 

“Saat aku tau tanganmu cedera. Sebelum aku masuk, aku mendengarmu sedang menelfon. Apa dengan namja yang kau suka itu?” tanyaku memberanikan diri. Hanya sebuah senyuman yang Hyeraa berikan sebagai jawaban. Mungkin iya jawabannya. Pikirku.

 

“Oppa, apa saat aku pergi kau akan mengantarkanku?”

 

“mengantarkanmu?”

 

“Ne. Mungkin nanti aku akan memperkenalkanmu pada namja itu. Namja yang aku telfon itu. Mau kah kau mengantarkanku? Kau juga akan aku perkenalkan dengan namja yang aku suka.”

 

“Haruskah?”

 

“Ne. masa oppa tidak mau mengantarkanku?”

 

“Bukan itu!” ucapku secara keras.

 

“Oppa?”

 

“Haruskah aku mengenal namja yang kau sukai itu? Haruskah aku melihat kau bersamanya? Berpelukan dan saling mengatakan ‘Jaga diri selama aku tidak disampingmu’ Haruskah? JAWAB!”

 

“Oppa wae?” Tanya Hyeraa. Matanay kini berkaca  kaca. Apa yang telah aku lakukan?

 

“Oppa, kenapa kau sangat marah?”

 

“Kamu masih Tanya kenapa aku marah?”

 

“Ne.”

 

“KAMU MASIH TANYA? Hah!!” ucapku sambil berdiri dan menatap sungai Han.

 

“Oppa, Aku tak tahu kau kenapa. Aku juga tak mengerti apa yang terjadi. Tapi mau kah kau untuk berjanjilah padaku bahwa kau akan datang mengantarkanku? Berjanjilah. Jebal.” Ucapnya sambil memegang tanganku.

 

“Kau tak tau aku kenapa? Jinja?” tanyaku menahan emosi.

 

“Ne.” ucapnya ragu ragu

 

“AKU MENYUKAIMU HYERAA!! AKU TAK BISA MELIHAT KAU DENGAN NAMJA LAIN! AKU CEMBURU!!!!” Ucapku setengah teriak. Ku atur nafasku, aku yakin sekarang semua orang sedang memandangi kami. Ku pandangi Hyeraa, airmata yang tadi masih tertahan, kini tak terbendung lagi. Cepat cepat dia hapus airmatanya itu. “Sudahlah., lebih baik kita pulang saja.” Kulangkahkan kakiku untuk beranjak dari tepi sungai itu. Aku terus berjalan tanpa menghiraukan Hyeraa. Mungkin sekarang dia sedang menangis. Aku tak tahu dan tak mau tahu, yang aku tahu adalah Hyeraa telah mengetahui perasaanku.

 

~~~~~

 

Semenjak kejadian di tepi sungai Han itu, aku tidak pernah lagi bertemu dengan Hyeraa. Hingga detik ini pun aku masih befikir, kenapa aku bisa mengatakan kata kata seperti itu. Sekarang yang ada di pikiranku adalah apa yang sedang Hyeraa pikirkan tentangku? Bagaimana kalau aku dianggap pria aneh? Semua pertanyaan itu berputar di benakku.

 

Kulihat kalender dikamarku. Tanggal 9 oktober. Besok tanggal 10. Jika semua rencana berjalan dengan baik,besok adalah hari dimana Hyeraa akan pergi ke Itali. Besok. Dan hari ini adalah hari terakhir untukku bertemu dengannya, sebelum berpisah.  Kupandangi Handphoneku. Apa aku harus menelfonnya? Kuambil handphon dan mulai mengetikkan nomernya. Tapi kubatalkan.

 

Bibib Bibib Bibib … handphone ku bordering. Sms masuk. Hyeraa?

 

Oppa, aku ingin memastikan apa kau akan datang besok? Hari ini adalah hari terakhirku di Seoul. Aku akan ke Italia selama 5 tahun, dan sebelum aku pergi, mau kah kau mengantarku? Jebal.

 

Membaca sms itu aku ingin sekali membalasnya. Tapi aku tak tau mau membalas apa. Aku tak tau apa yang aku  rasakan saat ini. Ku matikan handphoneku karena aku yakin Hyeraa akan menelfonku. Kurebahkan diriku diatas kasur. Memandang langit langit kamar dan memutar kembali apa yang telah aku lalui selama 6 bulan ini. Bertemu dengan hyeraa, melatihnya membuat pasta, dan kini saatnya aku berpisah dengannya.  Semua kejadian demi kejadian kembali terulang dalam benakku. Hyeraa~

 

Tok tok tok…

 

“Ryeowook-ah, sudah tidur?” Hyung berdiri dibalik pintu.

 

“Ah hyung, belum. Masuk lah.” Ucapku sambil segera bangun dari tidur dan duduk di atas kasur. “ada apa hyung?”

 

“Gwenchana?”

 

“Ne?”

 

“Neo, Gwenchana?”

 

“Maksudnya apa hyung?” tanyaku penuh keheranan. Hyung hanya berjalan menuju meja belajarku, mengambil kalender dudukku.

 

“Besok Hyeraa pergi kan? Kamu gak papa?” Tanyanya sekali lagi

 

“Aku…”

 

 

“Dengarkan aku. Yang namanya kesempatan tidak akan datang dua kali. Mereka akan datang sekali. Saat kesempatan datang dan kamu ragu ragu lalu malah menolaknya, dia akan pergi. Dan saat kau memutuskan untuk mengambilnya tapi kesempatan itu sudah hilang kamu pasti akan menyesal dan saat itu kamu akan berfikir ‘betapa bodohnya aku!’ atau ‘kenapa aku seperti itu?’ atau mungkin kamu akan berfikir ‘akankah dia datang lagi?’ Semua itu hanya kamu yang dapat memutuskan.”  Ucapnya sambil terus memandangi kalenderku.

 

“Hyung, jujur saja aku tak mengerti apa yang kau bicarakan.” Jawabku jujur. Hyung hanya tersenyum. Meletakkan kalenderku, dan berjalan mendekatiku. Duduk di ujung kasur memandangi setumpuk buku resep yang terletak di dekat kasurku.

 

“Dulu, saat aku pertamakali memutuskan untuk belajar memasak, aku berfikir bahwa aku sudah gila. Kau taukan aku sangat membenci usaha masak memasak?” tanyanya.

 

“Heem” jawabku

 

“Saat itu aku bertemu dengan seorang yeoja mengenakan pakaian chef dengan baret hitam di lehernya. Sedang meneriakkan sumpah serapahnya di tepi sungai Han. Saat itu aku jatuh cinta padanya saat  pandangan pertama. 8 tahun yang lalu. Yah 8 tahun yang lalu. mulai saat itulah aku mau belajar membuat pasta dan membantu Appa. Selama 2 tahun aku memendam rasa cinta aku pada yeoja itu. Hingga suatu saat dia melakukan hal yang aku benci. Dia curang padaku dia memanfaatkan keahlianku…”

 

“Jiyoung-ssi?” potongku ragu ragu

 

“Ne. Jiyoung adalah yeoja yang aku cintai. Dia yang membuat aku mencintai pasta, tapi dia juga yang membauat aku membenci pasta. Membuat aku tak ingin lagi menyentuh pasta. Tapi disaat saat keperjiannya ke Italia, aku ingin sekali mengantarnya. Mengatakan padanya bahwa aku mencintainya. Mengatakan bahwa sebenarnya masalah kompetisi itu aku tidak memikirkannya. Aku tidak peduli aku akan menang atau kalah. Aku hanya ingin bersamanya. Tapi saat itu aku terlalu emosi. Gegabah. Hingga aku membiarkannya pergi. Satu tahun yang lalu tanpa sengaja aku bertemu dengannya. Kami berbicara dengan tenang. Aku ceritakan semuanya, aku bilang kalau aku mencintainya dan ternyata dia mencintaiku juga. Tapi kami tak bisa bersama karena Jiyoung sudah mengikat janji dengan TaeHae. Aku sangat menyesal mengapa aku membiarkan dia pergi dan membiarkan mereka bertemu di Italia.” Ucap Hyung. Hyung melirikku dan tersenyum. “ Cukup aku yang menyesainya wookie. Jangan sampai kau merasakan hal yang sama.” Ucapnya sambil menepuk bahuku. Hyung berjalan keluar dan membiarkanku berfikir.

 

Semua perkataan hyung membuat aku berfikir. Apa yang harus aku  perbuat sekarang? Apa aku harus mengantarnya besok? Hufh! Semuanya membuatku bingung. Kembali kubaringkan badanku dan tidur.

 

~~~~~

 

“Dongsaeng-ah. Bangun!” ucap hyung sambil berusaha membangunkanku.

 

“Ada apa hyung?” Ucapku malas malas.

 

“Bangun dulu. Ada Zhoumi di bawah. Kau temui dia dulu.” Ucap hyung sambil menarikku hingga aku dalam posisi duduk.

 

“Zhoumi?”

 

“Ne. cepat mandi, dan turun temui dia. Aku pergi dulu.” Ucapnya sambil keluar dari kamar

 

          Zhoumi disini? Ngapain? Terpaksa  karena ada Zhoumi mau tidak mau aku bangun dan mandi. Selesai mandi aku bergegas menemui Zhoumi. Ku ambil jaket yang menggantung di kursi meja belajarku. Kulihat kalender dudukku. Tanggal 10 Oktober. Disana tertulis ‘Keberangkatan Hyeraa’. Dan itu adalah hari ini. Huh! Kututup kalender itu dan segera bergegas menemui Zhoumi.

 

“Zhoumi. Ada apa jam segini sudah dirumahku?” tanyaku saat melihat Zhoumi duduk di ruang tamu.

 

“Ryeowook. Kau dirumah? Tidak mengantar Hyeraa?” tanyanya.

 

“Kau datang kesini untuk memintaku mengantar Hyeraa?” sebaiknya kau pulang.” Ucapku sambil membalikan badan dan melangkah menaiki tangga.

 

“Jamkamanyo.”cegak Zhoumi. “Hyeraa memintaku untuk menyerahkan ini padamu. Lihatlah” Zhoumi pun menaruh sebuah kotak dan sebuah surat diatas meja tamu. “Aku tak akan memaksamu untuk pergi. Aku mengenal baik siapa Kim Ryeowook. Aku pergi.” Ucapnya sambil keluar dari rumahku.

 

Setelah Zhoumi keluar, aku mendekati kotak yang Zhoumi taruh. Ku buka kotak itu. Gantungan Handphone berbentu kunci. “Gantungan ini?” ucapku. Dalam kotak itu ada sebuah gantungan handphone yang Hyeraa beli saat latihan terakhir. Ku ambil surat yang ada di samping kotak itu.

 

Annyeong Ryeowook oppa

 

          Oppa, mungkin saat kau membaca surat ini, aku sudah tidak lagi mmenginjak tanah Seoul. Sebenarnya aku ingin memberikan hadiah ini secara langsung. Tapi aku rasa tidak mungkin. Oppa tidak membalas SMS atau mengangkat telfonku. Tapi tak apa. dengan begini, aku juga sudah bisa memberimu hadiahkan?

 

          Saat di tepi Sungai Han aku bilang aku akan memperkenalkanmu dengan orang yang aku suka. Oppa beruntung tidak datang, karena orang yang aku suka juga tidak datang ke bandara mengantarkanku. Dia tidak datang. Tapi aku yakin disuatu tempat dia sedang membaca suratku ini. Yah oppa, kau lah namja yang aku suka Oppa. Kau. Bukan orang lain. Bukan orang yang aku telfon. juga bukan orang yang menungguku di rumah sakit.

 

          Oppa, maafkan aku jika beberapa hari terakhir ini kau merasa tak nyaman. Sekarang aku ingin mengatakan yang sejujurnya. Orang yang menelfonku adalah Koko Zhoumi. Dia adalah orang yang selama ini aku panggil oppa. Tapi kau jangan salah sangka dulu. Zhoumi bukanlah orang yang aku sukai. Aku memang menyayanginya, tapi hanya sebagai koko. Tidak lebih. Dan namja yang bersamaku dirumah sakit waktu itu adalah Yoogeun Oppa. ya, hyung mu oppa…

 

          Hal yang ingin aku sampaikan waktu itu adalah aku takut. Aku takut kehilanganmu. Aku takut saat aku kembali dari Italia aku akan kehilanganmu. Karena aku sangat mencintaimu. Aku merasa lega karena ku juga ternyata menyukaiku.sekarang aku sedang dalam perjalanan menuju impianku. Ke Italia. Aku harap Oppa dapat kembali beraktivitas seperti biasa. Aku harap oppa selalu dalam keadaan baik baik saja.

 

          Simpanlah gantungan Handphone itu. Itu adalah kunnci hatiku. Ssaat aku kembali dan jika kau belum memiliki yeojachingu, mau kah kau membuka hatiku dengan kunci itu?

 

Dongsaeng yang mencintaimu

Song Hyeraa.

 

“Babo! Babo! Babo! Kau Babo KIM RYEOWOOK!!!” ucap ku nyaris teriak. Ku kepalkan tanganku dan ku genggam gantungan handphone itu.

 

“Masih ada waktu untuk mengejarnya.” Ucap seseorang di belakangku. Zhoumi? “Aku sudah bilangkan? Aku mengenal dengan baik siapa Kim Ryeowook.” Ucapnya sambil memberiku helm.

 

“Dia sudah pergi.” Jawabku sambil menolah helm yang Zhoumi berikan.

 

“Dia belum berangkat. Aku sengaja memberimu surat itu lebih awal dari yang Hyeraa minta. Karena aku tau kau tidak akan menyianyiakan waktu. Kajja.” Ucapnya sambil memberikan Helm ke tanganku.

 

Mendengar perkataan Zhoumi aku tersenyum. Segera ku pakai helm yang diberinya dan berlari menuju motornya. Zhoumi mengendarai motornya dengan kecepatan penuh. Zhoumi bilang pesawat hyeraa akan lepas landas pukul 11.00 , sekrang masij jam 8.30. masih ada waktu untuk menemuinya.

 

Tepat jam 10.00 kau dan Zhoumi sampai disana.semoga masih ada waktu sebelum Hyeraa chek in. kami berlari menuju ruang tunggu. Ah itu dia!

 

“Noona!” teriakku. Saat melihat Noona, orang tua Hyeraa, Taehae-ssi, dan Hyung.

 

“Ryeowook?”Tanyanya heran.

 

“Hyeraa?” tanyaku sambil mengatur nafas.

 

“Baru saja masuk.” Ucap TaeHae-ssi.

 

Aku pun kembali berlari ke pintu masuk. “Hyeraa!!!” teriakku saat melihat seorang yeoja yang baru memasuki pintu bandara.

 

“Oppa?”ucapnya. Hyeraa pun meminta izin untuk keluar sebentar.

 

“Oppa, kau datang?” tanyanya. Matanya berkaca kaca

 

“Babo! Maana mungkin aku tidak datang. Aku tak akan melepaskanmu begitu saja.” Ucapku.

 

“Oppa.” kini air mata hyeraa benar benar jatuh.

 

“Aku akan menyimpan kunci ini sampai kau datang kembali ke Seoul. Dan kau berjanjilah untuk terus menutup hatimu.” Kutunjukan gantungan handphone pemberiannya. Kunci pasangan hati. Hyeraa pun menunjukan gantungan kunci berbentuk hati. Pasangan sang kunci.

 

“Aku janji.”Ucapnya

 

Ku peluk Hyeraa. “nado Saranghae Hyeraa. Nado saranghae.”Ucapku

 

“Gumawo Oppa.saranghae.” ucapnya. Hyeraa pun memlukku dengan kencang.

 

“Kau tak usah takut. I’ll wait you until the end of time. I promise.” Ucapku. Ku kecup kening Hyeraa. Dan ku lepaskan pelukanku. “Pergilah. Ku tunggu kau 4 tahun lagi” ku kecup kembali kening Hyeraa dan melepasnya untuk pergi.

 

Hyeraa melangkah masuk. Aku melihatnya penuh percaya diri. Melangkah dengan yakin menuju Italia. Sebelum menghilang, Hyeraa kembali membalikan badan, melambaikan tangan sebagai tanda selamat tinggal. Aku pun melambaikan tangan padanya. Sesaat setelah Hyeraa menghilang dari pandanganku, aku berjalan mendekati hyung dan yang lainnya. Orang tua Hyeraa sudah terlebih dahulu meninggalkan kami. Hyung menepuk pundaku dan tersenyum mengisyaratkan bahawa aku melakukan hal yang benar. Noona dan Taehae-ssi juga tersenyum. Noona memelukku dan berkata “Gumawo  dongsaeng. Gumawo.”Ucapnya.

 

“Ne noona. Nado, jeongmal gumawo sudah memperkenalkan Hyeraa padaku.” Ucapku sambil melepaskan pelukan noona.

Kami pun melangkahkan kaki keluar dari bandara. Aku memutuskan untuk pulang bersama Zhoumi.  Semua pulang. Kecuali aku dan Zhoumi. Aku meminta Zhoumi menunggu hingga pesawat Hyeraa lepas landas.

 

“hey. Ini.” Ucap Zhoumi sambil memberiku minuman kaleng. Aku tersenyum melihat minuman kaleng itu.Ini minuman kaleng yang mengenai kepalakusaat pertamma bertemu dengan Hyeraa. Ucapku dalam hati.

 

“Hey! Apa setelah kay menyatakan cinta pada Hyeraa kau jadi gila? Tersenyum tanpa sebab seperti itu.”

 

“Hah. Kau ini.” Ucapku sambil terus tersenyum memandangi minuman itu. Zhoumi mengambilnya dan membukannya untukku.

 

“Kalau cuman dipandangi saja, minuman itu tidak akan terbuka. Ini” ucapnya. “Hufh… jadi selama ini ada yang merasa cemburu denganku?” ucapnya setenah menggodaku.

 

“Nugu?”tanyaku tak mau mengaku

 

“Neo.” Jawabnya santai.

 

“Naega?”

 

“Ne.” ucapnya sambil memandangku.

 

“Hahahahaha…” kami pun tertawa bersama.

 

Tak lama pesawat menuju Itali lepas landas. Pesawat yang membawa Hyeraa. Ku pandangi pesawat itu hingga menghilang dari pandangan.

 

Hyeraa, pergilah meraih cita citamu, dan cepat lah kembali ke Seoul agar aku bisa membuka hatimu. I’ll wait you untul the end of time, because I just wanna be with you. Forever with you…

 

 

END..

 

Nah tamat lah cerita ini.. maap ya kalo ceritanya agak GJ dan diluar yang diharapkan oleh kalian..

makasih buat semua yang udah baca FF aku ..

makasih Juga buat yang udah nungguin dari awal🙂

makasih buat Putry .. makasih namanya de :*

Leave comment please …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s