I’ll Wait You Until The End of Time (Forever With You) [Part8]

Author : Anggi Putri Kusuma Wardhini a.k.a Song Ji Young

Cast :Kim Reowook

Song Hye Raa  (Adek saya..)

Song Jiyoung

 

Annyeonghaseyo🙂

long time no see ya.. maap lama .. part ini ..

silahkan di baca😀

Part sebelumnya

“Bangun! Bangun! Bangun!” ucapnya sambil terus mengguncangkan badanku. Semakin lama guncangan ini semakain terasa sakit. Teriakkannya pun semakin besar. Suara Hyeraa semakin nge-bass. Perlahan ku fokuskan diriku pada suara. Aku tak membuka mata, hanya mendengarkan.

 

“Kya~ Bodoh! Buka matamu! Bangun! Lihat jam berapa ini!” mendengar kata ‘bodoh’ terucap daari si mpunya suara, membuat ku membukamata. Dan ternyata…

 Story

“Hyung!” Teriakkku sekeras mungkin. “Apa yang kau lakukan! Di…”kata kata ku terhenti saat aku melihat sekelilingku. Aku di kamar? Ucapku dalam hati sambil tersenyum sendiri. Ku tatap wajah hyungku yang mengisyaratkan keheranan itu. Sebuah pukulan kecil mendarat di kepalaku, membuatku tersadar sepenuhnya bahwa itu semua hanya mimpi.

“Bodoh! Jam berapa ini?” ucapnya sambil memperlihatkan jam di samping tempat tidurku.

 

Aish~ jam 10.45! aku telat. Tanpa basa basi dengan hyungku aku langsung berlari ke kamar mandi dan pergi dari rumah. Berlari sekuat tenaga menuju sebuah gedung serbaguna di pusat kota. Hari ini adalah hari kompetisi pasta itu, dimana Hyeraa mengikutinya. Dan aku sudah berjanji padanya akan datang, dan akan menyemangatinya sampai akhir. Aish~ ada apa ini? Makiku dalam hati. Semua orang hari ini keluar dari rumah. Jalan ramai sekali. Aku tak bisa berlari dengan cepat. Kulihat jam tangan ku, jam 11 tepat. 30 menit lagi kompetisi mulai. Aku akan telat ini … Ottohke?

 

Tiiiiinnnnn tiiiiinnnnnnn

 

Seseorang memberhentikan motornya disebelahku. Sapa ini? Sang pengendara pun melemparkan helm kepadaku.

 

“Cepat naik kalau tidah mau telat.” Ucapnya sambil membuka kaca Helm yang dia pakai.

 

“Hyung…” ucapku heran. Ternyata dia serius dengan ucapannya waktu itu.

 

“Kya~ dongsaeng-ah, cepat naik. Jika tidak kita akan telat.” Perintahnya. Tanpa banyak Tanya aku pun menaiki motornya.

 

Hyungku mengendarai motor dengan cepat. Hanya 20 menit kami telah sampai di gedung pertemuan tempat kompetisi diselenggarakan. Tahun ini nampaknya banyak yang mengikuti kompetisi ini.  Banyak sekali orang disini, sampai sampai aku tak dapat melihat Jiyoung-ssi atau Eommanya Hyeraa. Aku dan Hyung segera masuk dan mencari mereka semua.

 

“Dongsaeng-ah, itu mereka.” Ucap Yoogeun hyung ssambil menunjuk Hyeraa yang berada di depan bersama Jiyoung-ssi. Aku melambaikan tangan dan berjalan kearah mereka.

 

“Oppa!” balas Hyeraa. “Aku kira kau tak akan datang.” Ucapnya dengan gembira.

 

“Mana mungkin Ryewook tidah datang. Dia pasti akan datang. Dia kan gurumu.” Ucap Yoogeun hyung setengah menggodaku.  Dan di sambung ketawa ringan dari Jiyoung-ssi, Yoogeun hyung, dan Eommanya Hyeraa. Aku yakin, saat ini pipiku seperti kepiting rebus! Dasar Hyungnim!!!! Kutatap hyungku itu dengan tatapan sinis.

 

“Kepada para peserta, silahkan menempati posisi masing masing” terdengar suara dari podium.

 

“Hyeraa, sana cepat ke tempatmu.” Ucap eommanya.

 

“Ne.” ucapnya dengan percaya diri. Hyeraa pun berjalan ke ketempatnya. Di balik meja putih di depan podium.

 

Kami semua mengmbil posisi diduduk di paling depan. Jujur, hatiku sangat tegang. Jujur, aku yakin sekali Hyeraa akan memang, tapi apa keyakianku ini akan sama dengan yang akan terjadi? Hyeraa sedang diberikan pengarahan oleh panitia, dan mataku tak pernah lepas melihatnya, hingga tanpa sadar, seseorang memegang tanganku. Jiyoung-ssi. Aku memandangnya dengan heran. Jiyoung-ssi hanya tersenyum dan menatapku.

 

“Gomawo.” Ucapnya lalu melepas genggaman tangannya.

 

Aneh, melihat dia tersenyum seperti itu. Tapi kata kata itu membuat aku tersenyum. Jiyoung-ssi ternyata tidak seperti yang aku pikirkan. Dalam hatinya dia masih memiliki perasan.

 

“Cheonmaneyo Jiyoung-ssi.” Ucapku sambil tersenyum.

 

“Panggil aku Noona.” Bisiknya

 

“Ne?”

 

“Noona.” Ulangnya sambil tersenyum. Memperlihatkan lesung pipinya yang indah. Persis seperti Hyeraa.

 

“Ne Noona.” Balasku sambil tersenyum.

 

~~~~~

 

Kompetisi tahun ini agak berbeda. Karena begitu banyak yang mengikutinya, maka kompetisi di bagi menjadi dua tahap. Tahap pertama adalah tehnik memasak, dan tahap dua adalah wawancara. Entah apa yang akan di tanyakan nanti. Yang pasti hingga detik ini Hyeraa belum keluar. Tahap pertama belum juga beres.

 

Selama 3 jam kamu duduk disana menunggu. Aku merasa waktu berputar sangat lama. Dan sampai sekarang baik Hyeraa ataupun peserta lainnya, belum juga ada yang keluar. Sampai satu orang panitia keluar kehadapan kami dan diiringi oleh para peserta dan para juri. Aku melihat wajah Hyeraa. Dia memancarkan sedikit kekecewaan. Mungkin dia kalah. Pikirku. Mataku terus tertuju pada Hyeraa. Sepertinya para panitia sedang memberikan pengarahan pada para peserta.

 

Tak lama Hyeraa mendekati kami. Dengan wajah yang tegang. Kami yang menunggunya pun ikut tegang. Jika memang kalah pada putaran pertama.

 

“Hyeraa bagaimana?” ucap Jiyoung-ss begitu hyeraa mendekati kami.

 

“Hyeraa…” ucap eommanya. Hyeraa hanya terdiam dan memluk Jiyoung-ssi. Lama lama dia menangis.

 

“Hyeraa… jika memang kau gagal ya tidak papa.” Ucap jiyoung-ssi lirih. Aku pun merasakan hal yang dirasakan Hyeraa. Sedih. Mendengar ucapan kakaknya, Hyeraa melepaskan pelukannya.

 

“Eonni…”

 

“Sudah tidak apa apa.” Ucapp Jiyoung-ssi sambil menghapus air mata Hyeraa.

 

“Eonni, Eomma…” ucapnya sambil memegang tangan keduanya “Aku lolos.” Sambungnya sambil tersenyum.

 

Mendengar perkataan hyeraa itu, serasa semua beban yang menyesakan dadaku hilang begitu saja. Aku hanya bisa tersenyum. Dan mendoakannya agar wawancara berjalan lancar. Tak banyak waktu yang diberikan oleh panitia kepada para peserta untuk mempersiapkan wawancara. Dan untungnya, Hyeraa mendapatkan ukuran nomer 8, setidaknya ia memiliki waktu lebih untuk mempersiapkan segalanya.

 

Hyeraa telah kembali kedalam ruangan menunggu namanya dipanggil, kami juga kembali ke tempat kami memnunggu tadi. Kali ini menunggunya lebih lama. Yoogeun Hyung saja sudah bolak balik ke Kantin untuk membeli ramen. Dia sudah menghabiskan 3 mangkok ramen. Jigoung-ssi sudah menghabiskan 5 cup espresso, sedangkan aku sudah berpulih pulih kali ke toilet. Entah kenapa aku pergi toilet. Tak ada yang aku lakukan disana. Hanya menyici tangan yang sama sama sekali tidak kotor.

 

Waktu terus berputar dan akhirnya kami melihat Hyeraa keluar dari balik pintu peserta. Hyeraa menagis. Apa dia gagal? Tapi kurasa tidak. Karena walaupun Hyeraa menangis, dia tersenyum dengan bangga. Hyeraa lolos. Semua orang yang ada disana bersorak. Aku dipeluk oleh Eomma nya Hyeraa. Berkali kali ahjumma mengatakan terimakasih padaku. Dan berkali kali juga aku bilang bahwa ini adalah usaha Hyeraa. Murni usaha Hyeraa. Ucapku lirih dalam hati.

 

Hyeraa terliht sangat bahagia. Dia terus menangis dan mangucapkan “Italy wait me!” sekeras kerasnya, lalu diiringi gelak tawa dari kami semua. Hyeraa Nampak sangat bagaia hari ini. Seakan semua bebannya menghilang. Tapi  aku tidak dapat merasakan hal yang sama. Aku merasa beban di pundakku tidak berkurang satu. Tapi entah kenapa aku malah merasa beban di pundakku bertambah 4 kali lipat. Aku bisa tersenyum bahagia melihat Hyeraa meraih impiannya. Pergi ke Itali. Tapi aku tidak dapat merasa bahagia yang sama dengan yang Hyeraa rasakan. Aku bisa membuat wajahku ini tersenyum, tapi hatiku tidak.

 

~~~~~

 

Keesokan harinya, keluarga Song mengadakan pesta kecil untuk merayakan kemenagan Hyeraa. Pesta diadakan malam hari. Tak banyak yang di undang. Hanya Aku, Hyung, Taehae-ssi, dan keluarga Song. Semua orang yang ada disana bersuka cita. Hyung Nampak akrab dengan TaeHae-ssi, Emmoa dan Appa nya Hyeraa juga terlihat sangat bahagia. Termasuk noona – Jiyoung-ssi – mungkin hanya aku yang hanya berdiri disamping jendela dan menatap kosong ke arah ruangan. Hati ku semakin tak menentu. Hyeraa lulus dan dalam waktu dekat Hyeraa akan pergi ke Italia, ini berarti waktu ku bersama Hyeraa tinggal sebentar. Hufh… kembali ku pandang semua wajah yang hadir saat itu. Untuk pertama kalinya Aku melihat senyuman bahagia dari wajah Jiyoung-ssi. Kalau di lihat lihat dia cantik juga.

 

“Cantik ya.” Ucap seseorang di sebelahku. Membuat ku kaget

 

“Zhoumi?” balasku dengan ekspresi kaget yang tak dapat ku sembunyikan. “Ngapaain kamu disini?” tanyaku heran.

Zhoumi hanya tersenyum dan mengajakku kesudut ruangan.

 

“Ngapain kamu disini?” tanyaku lagi

 

“Hehehe.. kau lihat siapa yang ada di samping Jiyoung-ssi?” Katanya menunjuk seorang pria tampan di samping noona.

 

“TaeHae-ssi?” ucapku ragu ragu.

 

“Ne.” jawabnya dengan senyum penuh kepercayaan diri khas Zhoumi.

 

“Ne?”

 

“Aish~ Masih ingat ceritaku tentang seorang anak yang diangat menjadi anak ayah 10 tahun yang lalu?” Aku hanya bengong mendengar perkataan Zhoumi, dan mencoba mengingat cerita Zhoumi.

 

“Ah~ anak itu. Aku ingat. Tapi apa hungungannya dengan Taehae-ssi?” ucapku

 

“Aish~ anak itu adalah TaeHae. Ada adalah hyung angkatku!”

 

“MWO?” ucapku setengak teriak. Zhoumi langsung menutup mulutku dengan kencang dan menarikku keluar dar dari ruangan.

 

“Aish~ kau ini babo! Bisa tidak tidak usah teriak seperti itu?”

 

“Kau yang  babo! Kau sedang berbohongkan?”

 

“Ne? aku berbohong?”

 

“Ne. kau berbohongkan?”

 

“Ani. Aku tidak berbohong. TaeHae adalah anak yang ditemukan Baba* 10  tahun yang lalu di Bustan” Jelasnya *baba = Ayah [bahasa mandarin]

 

“Jinja?”

 

“Ne.” jawabnya sambil menghela nafas. “Aish~ kau tidak percaya?” terusnya sambil memukulku.

 

“Ani.” Jawabku singkat. Ku intip kedalam ruangan dan melihat TaeHae-ssi, lalu memandang Zhoumi lagi. “Tapi kenapa aku bisa tidak tau? Aku mengenalmu sejak lama kan? Kenapa kau tak mengatakannya?”

 

“Aku malu.”

 

“Malu? Wae? Kalo aku jadi kamu, aku akan membanggakannya setengah mati. Dia itu hebat Zhoumi.” Ucapku

 

“Itu dia yang membuat aku malu.” Ucapnya sambil memandanng ke dalam ruangan. “aku malu karena aku tidak dapat sepertinya. Aku sama sekali tidak dapat membuat baba dan mama merasa bangga dengan apa yang aku capai.”

 

“Ah, itu hanya perasaanmu saja Zhoumi. Kalau baba dan mama mu tidak merasa bangga dengan apa yang kau capai, mereka tidak akan membawakan kami Ayam Gooreng Shangai setiap kali Jīn hǔ memang dalam lomba. Atau saat SMA, saat kau memenangkan pertandingan karate, malam hari nya baba pasti mengajak kita makan. Semua ini dia lakukan pasti karena dia bangga padamu. Sudah lah Zhoumi.” Ucapku menennagkan Zhoumi.

 

“Heh… Iya mungkin saja.” Jawabnya

 

“Kya~ kenapa kau jadi mellow begini. Sudah. Kita ada  di pesta. Kau ini merusak suasana pesta.” Ucapku sambil mendaratkan pukulan kecil di kepalanya.

 

“Mwo? Jeo? Hah. Jeo aniyeyo. Kamu yang merusak suasana.” Belanya

 

“Jeo?”

 

“Ne. muridmu dinyatakan lulus dan menerima beasiswa ke Italia. Kau sebagai gurunya malah menekuk muka seperti itu. Bagaimana kau ini.” Sambil membalas memukulku.

 

“ Aku senang!” perotesku. “Aku bangga padanya.” Ucapku serius mungkin

 

“Ne, Arraso. Tapi kau tidak senang dengan kepergiannya. Jinjayo?” ucap Zhoumi.

Mendengar ucapan Zhoumi aku hanya terdiam. Aku sendiri tidak tahu apa yang aku rasakan sekarang. Senangkah? Sedihkah? Ada apa denganku?

 

“Kya~ Ryeowook, sekarang kau masih punya waktu kurang dari sebulan. Segeralah nyatakan cintamu padanya. Sebelum dia pergi ke Itali dan menemukan pria lain disana. Karena aku yakin dia sangat mengharapkan kau menyatakan cinta padanya.” Ucap Zhoumi sambil berlalu pergi meninggalakanku, ia kembali ke dalam kemeriahhan pesta. Aku hanya duduk di sudut ruangan dan  memikirkan kata kata Zhoumi.

 

Setelah pesta selesai aku dan Hyung pulang. Sesampainya dirumah aku langsung merebahkan badanku di kamar. Rasanya cape sekali. Kasur adalah zona paling nyaman saat merasa cape seperti ini. Kurebahkan badanku dan ku pandang langit langit kamar. Tiba tiba ucapan Zhoumi kembali terniang dalam ingatanku.

 

Sekarang kau masih punya waktu kurang dari sebulan. Segeralah nyatakan cintamu padanya. Sebelum dia pergi ke Itali dan menemukan pria lain disana. Karena aku yakin dia sangat mengharapkan kau menyatakan cinta padany.Apa yang dia bilang ada benarnya juga. Sebelum dia Hyeraa ke Italia.

 

Ku ambil Handphoneku untuk menelfonnya. Tapi ku urungkan niatku. Bagaimana aku memulainya? Ah telfon saja dulu…ah tidak tidak. Mau bicara apa aku kalau menelfonnya? Ku lempar handhondhu jauh jauh.  Kupandang lagi langit langit kamarku. Dan tanpa sadar ku pejamkan mataku. Tidur.

 

~~~~~

 

Dua minggu telah berlalu, dan hingga hari ini aku tak pernah punya keberanian untuk menyatakan cinta pada Hyeraa.

 

“Kya~ ngapain kamu bengong disini?”

 

“Zhoumi?”

 

“Jigeum mwohaeyeyo?”

 

“Ah, ani. Hanya  duduk saja.”

 

“Jinja? Bukan sedang memikirkan apa yang aku katakana tempo hari?” Hanya sebuah senyuman yang dapat aku berikan sebagai jawaban. Zhoumi selalu bisa menebak apa yang aku pikirkan.

 

“Temui dia, dan nyatakanlah.” Ucapnya sambil melihat lurus kedepan. “Ah, sudah sore. Mau pulang sekarang?”

 

“Ani. Aku masih mau duduk disini.” Ucapku

 

“Baiklah. Aku pulang duluan.”

 

“Ne.”

 

“Gyeseyo.” ucapnya sambil melangkah pergi meninggalkanku

 

Melihat Zhoumi jalan menjauh, pikiranku kembali pada kata katanya. Nyatakan atau tidak? Bagaimana kalau setelah aku nyatakan ternyata dia benar benar sudah memiliki namjachingu? Aish~ Kim Ryeowook! Kau ini babo. Aish~ kembali ku pandang apa yang ada di depanku. Membiarkan semua pikiranku ini pergi kemana mereka mau.

 

~~~~~

 

“Aku pulang.”

 

“Ah Ryeowook. Kau sudah datang.” Ucap hyung dari dapur.

 

“Ne” jawabku sambil melangkah menghampirinya. “hyung, kau belanja?” tanyaku melihat begitu banyak bahan makanan yang belum Yoogeun hyung keluarkan dari tas belanjanya.

 

“Ne. ini persediaan makan kiita selama satu minggu.”

 

“Mwo? Eomma belum pulang juga?”

 

“Ne. katanya Helmoni memaksa untuk tinggak di Busan beberapa hari lagi. Paling lama ya seminggu lagi.”

 

“Hmm… arasso.”ucapku sambil manggut manggut. “Hyung, aku kekamar dulu.” Kulangkahkann kakiku menuju kamar.

 

“Dongsaeng-ah” panggil hyung dan membuat langkah kakiku terhenti.

 

“Ne?”

 

“Ini.” Katanya sambil menyodorkan sebuah kertas yang dilipat

 

“Mwoyeyo?” tanyaku *Apa ini?*

 

“Molla, tadi aku bertemu dengan Hyeraa di jalan saat pergi ke swalayan. Nampaknya dia mau ke rumah. Aku bilang kalau kau di Kampus, dan aku akan pergi, jadi dia menitipkan itu.” Jelasnya sambil kembali pada belanjaannya.

 

Kulangkahkan kakiku kembali menuju kamar. Di kamar, ku buka kertas yang di berikan Hyung.

 

Oppa, jika kau telah membaca surat pendek ini, bisakah kau menelfonku?

 

 

 

TBC 

Leave Comment please :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s