Menyadari Sebuah Rasa

Kadang ada kebutaan yang kita rasa itu sebuah hal yang biasa, sebuah hal yang memang ada dan akan tetap ada. Kebutaan bahwa lingkungan dan kita kadang tak sejalan, kebutaan bahwa ada segores luka yang tak disengaja. Namun, saat kita sadar semuanya hilang dan pergi begitu saja tanpa mau mendengarkan apa yang kita keluhkan, yang mereka pikirkan hanya untuk menyelamatkan hati mereka agar tak terluka kembali, dan itu manusiawi. 

ada sebuah masa dimana aku mengerti, bahwa yang mereka berikan kepadaku hanyalah sebuah kesenangan sesaat. mereka yang terlalu lama mendengarkan ceritaku akan berlalu begitu saja, mereka yang saat aku sendiri akan hadir dan dengan segera pergi. Tak ada sebuah ketulusan atas hal yang terjadi, saat mereka bosan mereka akan meluapkannya padaku, membiarkan aku berada dalam ruang sembab yang mereka ciptakan untukku.

Rasa ini menyadarkanku, rasa bahwa aku harus segera bangun dari kebutaan, dan mentranplantasikan kebutaan ini pada kegelapan. Aku tak ingin terjebak lagi dalam kesembaban ini, sudah terlalu cukup ruang kesabaran di istana hatiku memasukkan semua keluh kesahmu. Aku tak egois kawan, aku hanya butuh sebuah ketulusan, bukan karena sebuah alasan yang tak nyata yang membuat kalian ada disampingku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s